Posted by
Unknown
4:29 PM
RELAKU
Panas
sang surya bagaikan tiada beban menyinari siang, teriknya menyilaukan aspal
yang penuh fata morgana , dan berhasil membuwat diriku seakan berada dalam alat
pemanas. Sungguh maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi dan juga Mentari, yang
mampu menghangatkan dan menyinari seisi Bumi, yang mampu membantu kehidupan di
Bumi ini, setapak demi setapak kaki ini melangkah menyusuri aspal, panas
teriknya tak menyusutkan niatku menuju Rumah, yups… beginilah mungkin rasanya
orang disana yang belum beruntung , menyusuri jalan menjajahkan jualan yang
belum tentu laku terjual, panasnya aspal yang membakar kakinya tak mampu
menggoyahkan niat untuk mencari nafkah , menghidupi anak isteri yang butuh
uluran tangannya. Tut..tut… hand phoneku berbunyi tertera dilayar LCD Kakak
memanggil. Ku tekan tombol dan ku awali salam dengan hati gembira,
“
Assalamu’alaikum kak..” ucapku sambil
tak henti melangkahkan kaki ini.
“ Wa’alaikum salam… jangan menyerah
ya, meskipun panas sampai membakar kulit, ingatlah disana masih banyak orang
yang lebih merasakan panas dibanding adek..”. Ucapan
kakak yang seakan tahu apa yang sedang aku keluhkan saat ini. Tersentak aku
tersadar atas apa yang aku keluhkan dan langsung ku Ucap Istighfar telah
mengeluh pada Allah.
“ kakak… kok tahu ya kalu aku
sedang mengeluh….habis panas banget kok..”. Ucapku dengan
nada agak manja.
“ ndak usah kayak gitu , kalu
mengeluh terus berarti bukan adikku, dimana adikku yang semangatnya terus
menggebu, masak adik kalah dengan semangat emak…?? Emak tiap hari mengayu sepedanya
, meskipun peluh keringatnya terus tercucur, akibat sengatan sang surya, tapi
emak tetap semangat tuh, ndak pernah ngeluh sama kakak..”. Nasihat
kakak bagaikan cambuk bagi diriku, ya.. Ibu kakak yang biasa dipanggil emak
memang bener – bener seorang perempuan yang aku idolakan, semangatnya begitu
besar tanpa lelah menjajahkan ikan pindangnya demi mencari nafkah.
“ iya kakakku,,, makasih ya sudah
mengingatkan, udah dulu ya telfonnya, ndak enak dilihat orang , karena adek
masih jalan kak, belum nyampe rumah..”.
“ iya adek,, tetap semangat
ya…Assalamu’alaikum..”
“ Wa’alaikum salam wr.wb..”
Hem…
kakak,, sebenarnya sih kakak bukan kakak kandungku tetapi dia adalah kakak
kelasku yang sudah lulus, Hasan Abdullah itu namanya, tapi aku lebih sering
memanggilnya kakak, ya…biar lebih enak dan mudah saja. Kakak memang bener –
bener jadi inspirasi buwat ku, jadi penasehatku, jadi tempat curhatku dan jadi
tempatku bertanya tentang apa yang belum aku tahu, namun , lama – lama hatiku menyimpan
rasa yang memang tidak biasa kepada kakak, meski terus ku coba untuk
mengendalikan tapi tetap saja hati ini tak bisa berbohong. Kewibawaannya terus
melekat dalam instingku yang memberikan motivasi agar diri ini terus semangat
untuk maju , dan menjadi seorang Mujahidah sejati.
“ akhirnya nyampe rumah juga,
assalamu’alaikum….”. Ucapku sambil membuka pintu, rumah sepi
bagaikan tanpa penghuni, entah kemana ummi. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur ,
tak sadar aku tertidur, hingga sebuah mimpi membangunkakanku. “ Astaghfirullah… aku belum shalat,,” gumamku
sambil bergegas masuk kamar mandi. Segarnya
air ini ,, berhasil menghidupkan sendi – sendi tubuhku, yang seakan terbakar
oleh teriknya matahari ketika jalan tadi.Usai shalat seakan jiwa ini begitu
tenang, damai, tanpa sedikitpun rasa hampa yang menghinggapi. Mentari mulai
merangkak kearah barat, senja mulai merayap disore hari, jingga terlukis begitu
anggun menghiasi langit sore. Hingga sedikit demi sedikit mentari tertutup
kelamnya sang malam, hangat sinarnya tergantikan terangnya sinar rembulan.
Tutut…tutut… suara hand phone mengagetkanku Ustadza Farah memanggilku, ku tekan
tombol dan ku jawab salam dari ustadza pembimbingku.
“ Assalamu’alaikum dik… “ ucap
ust.Farah dengan begitu lembut
“Wa’alaikum salam wr.wb…”
“ Anti besok bisa ikut Masyiroh
ndak dik, dalam rangka Tarhib Ramadhan…”
“ InsyaALLah bisa ust. ..”
“ ehm… ya sudah besok saya tunggu ,
jam 06.00 wib. Harus sudah kumpul, dan semoga niat kita selalu dalam jalan
dakwah…”.
“ oke Ust. Terimakasih ya…”
“ iya dik, ya sudah ndang belajar
gih… Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam wr.wb..”
Alhamdulilah
pahala telah didepan mata, hem… begitu nikmat ketika diri ini harus berjuang
demi agama Allah. Keringat ini bagaikan air Surga yang mengaliri semangat para
Pejuang Allah. Malam semakin larut tak sabar diri ini menunggu detik – detik
terindah menjelang Ramadhan, semangat ini terus berkobar seakan pejuang yang
akan menuju Medan Perang. Usai shalat subuh ku bergegas menuju tempat
berkumpulnya para Mujahid dan Mujahidah, meski jarak yang ku tempuh lumayan
jauh dan tiupan angin pagi yang menusuk tubuhku, tak menyurutkan semangat
berjuang ini. Mentari senyum menyambut hangatnya pagi, menyinari embun diatas
dedaunan membangunkan burung menyanyikan
nada syahdu. Kini dinginnya pagi telah dihangatkan sang mentari,
sesampaiku di Mushola tempat berkumpul, ku pandang wajah – wajah Mujahidah yang
begitu berseri – seri layaknya Bidadari Surga Illahi. Begitu erat hubungan
kami, rasa kasih sayang persaudaraan diantara sesama Muslim memang benar –
benar beda dengan yang lain, kami sangat memperhatikan apa yang saudara kami
rasakan, tidak lama seorang akhwat datang, dari kejauhan aku mengenal , Mbak
Ila akhwat cantik yang sering kakak sebut namanya. “Assalamu’alaikum dik…kok rajin banget datang duluan, tadi berangkat
sendirian ta…?”.
“
Wa’alaikum salam wr.wb,, iya mbak tadi
sendirian, habisnya mau hubungi mbak ila ech belum punya nomer hpnya..”.
Akhirnya
setelah semua lengkap kami berangkat menuju tempat tujuan, roda mobil yang kami
tumpangi terus berputar menempuh jalan yang begitu panjang, namun lelah
perjalanan itu, semua terbayarkan dengan rasa takjub dalam hatiku, mataku
tertuju pada barisan akhwat yang begitu banyak, sangat anggun, benar – benar
menerapkan syari’at Allah. Semangat kami kembali menggebu, menyusuri jalan raya
dengan Takbir dan Shalawat yang terus menggema, menghiasi bibir ini, dan
mendobrak pintu hati saudara – saudara kami. Kalimat – kalimat indah terus
terlantun hingga anak kecilpun tertarik mengucapkannya,,,
Ramadhan Bulan Dakwah
Ramadhan Barokah
Islam Tegakkan
Syari’at Terapkan
Khilafah Dirikan
Allahu Akbar
Kalimat
– kalimat itu terus terlantun, dengan semangat yang sangat berkobar seakan
mengalahkan rasa lelah yang bersarang. Saatnya kami pulang menuju rumah tempat
berteduh, meregangkan otot – otot yang kaku. Mobil terus berjalan ditengah
terik matahari , jalan yang tak rata sesekali menghambat perjalan kami , ku
lihat para Akhwat tertidur dalam mobil, mungkin akibat lelah setelah setengah
hari menyusuri jalan dengan melantunkan
Kalimat – kalimat Indah. Akhirnya kami memutuskan berhenti di Masjid untuk
mendirikan Shalat, butiran air Wudhu mengalirkan ion – ion positif dalam tubuh
ini, begitu segar bagaikan air surga yang mengalir, mampu melenyapkan rasa
lelah,, usai Shalat kami melanjutkan perjalanan Pulang dengan berganti
kendaraan, ya … aku pulang bersama mbak ila dan Akhwat yang lain , yang
rumahnya searah dengan aku, angkot menjadi pilihan kami. Kernek jail tak jarang
kami temui, seperti saat ini, dengan kecantikan Mbak Ila, mampu menggerakkan
jemari kernek yang berusaha merayap dipipi Mbak Ila, sorot mata tajam bagaikan
elang ketika kernek itu memandang wajah Mbak Ila. Dalam hati aku berfikir,
apakah setiap lelaki seperti ini, ketika melihat Akhwat yang cantik, Ya.. Allah
semoga engkau memberikan aku jodoh yang Sholeh. Mujahid yang aku harapkan
menjadi Imam dalam rumah tanggaku nanti. Sesampai dirumah ku rebahkan tubuhku
diatas kursi Shofa,ketika mata hendak tertutup , suara hp membangunkanku, kakak
kembali menelfonku menanyakan kegiatanku hari ini.
“ Assalamu’alaikum adik kecil…”.
“ Wa’alaikum salam kak…”
“ Bagaimana tadi ketemu dengan mbak
ila ndak…terus ngobrol apa aja dengan mbak ila…?”. Tanya
kakak seakan bener – bener pengen tahu tentang mbak ila. Hem.. mbak ila lagi ,
mbak ila lagi, gerutuku dalam hati.
“ Adek Kecil…. Kok diam aja,,gimana
tadi…”.
“ hehe… iya tadi bertemu dengan
mbak ila kak, ya ngobrol – ngobrol biasa aja,,”
“ mbak ila tadi bagaimana, pakek
jilbab dan krudung syar’I ndak…”.
“ iya kakak…uda ach mbak ila terus
dech…”. Gumamku pada kakak yang menginginkan pembahasan yang
lain.
“ hehe adek kecil..adek kecil..
gimana tadi ngajinya...”
“ ndak ngaji kok kak, tadi ikut
Masyiroh,, Alhamdulilah semakin menumbuhkan semangat- semangat Mujahidah…”.
“ Alhamdulilah… tetap Istiqomah
ya…Yaudah ndang istirahat pasti lelah, Assalamu’alaikum..”.
“ InsyaAllah kak, Wa’alaikum Salam
Wr.Wb.”.
Kurebahkan
tubuhku , sedikit demi sedikit mata mulai terpejam. Putaran kipas angin
menambah nikmatnya waktu istirahat. Hingga sayu – sayu terdengar suara lembut
membangunkanku, ummi dengan begitu hati – hati.
“ ndang mandi Fi… uda sore, tadi
mau ummi bangunkan tapi kelihatannya anti kecapekkan banget ,tidurnya pulas
jadi ndak tega ummi bangunin..”.
“ Hehe iya ni mi.. capek banget
rasanya, yaudah kalau gitu tak mandi dulu..”.
“Hemm.. ummi bener – bener orang
tua yang menjadi dambaan anak – anaknya.. “. Gumamku dalam
hati. Hari semakin sore langit dengan suara – suara petir menemani kelamnya
awan mendung, yang menandakan sebentar lagi butiran – butiran Kristal terjun
diatas Bumi, menyegarkan tanah – tanah gersang, menghijaukan dedaunan, dan
menumbuhkan anak – anak pohon yang akan bertunas menghiasi isi Bumi.
Alunan rintik hujan
bagaikan melodi ditengah gelapnya sang malam, menemani jiwa yang tertegun menatap
butiran Kristal. Sembari memainkan polpen ditangan , ku rasakan dinginnya
hembusan angin malam. Ku tutup diaryku yang sedari tadi menampung curahan
hatiku. Bingung, resah, letih, hampa semua bercampur aduk saling mengadu dalam
batinku. Sesekali tersirat bayangan seorang kakak yang paling berharga dalam
hidupku , sesekali pula tersirat bayangan akhwat yang cantik , yang mungkin
akan menjadi bidadari pilihan kakak ku. Jarum jam terus merangkak menuju pkl.
21.00 WIB. Namun perasaan ini tidak karuan entah apa yang aku rasakan,
bercampur aduk bagaikan gado – gado tanpa bumbu. Ku coba merangkai sebait kata
Motivasi untuk diri ini , agar aku tak terlalu larut bersama rintik hujan
dimalam senduh. “ Mbak iLa…”. Nama itu
terus bersarang ditelingaku, hati ini terasa cemburu ketika mendengar dan mengingat
nama itu, entah apa ?? entah mengapa?? , perasaan ini terus beradu antara
sayang dan cemburu. Nama itu selalu ku dengar dari mulut kakakku, entah mengapa
kakak selalu menyebut nama itu, mungkin suka atau mungkin hanya sekedar ingin
mengenal . namun hati ini tak bisa berbohong, rasa sakit yang mendalam tak
mampu aku nafikkan , meski kadang senyum aku bumbukan agar sakit ini hanya aku
yang merasakan. Ku coba adil, dan ku coba ihlas menerima apa yang kakak
putuskan , meski hati terus memberontak dan ingin mengatakan Kakak Jangan…!!.
Namun aku bingung dengan apa yang kini aku lakukan, aku sakit ketika kakak
terus menyebut nama Mbak ila, namun aku merasa senang ketika aku membantu Kakak
mengenal mbak Ila, mungkin aku bodoh membiarkan kakak yang aku sayangi dimiliki
orang lain, namun apa yang harus aku lakukan jika memang mereka berdua
berjodoh. Ku ambil Hand phoneku dan ku ketik sebait kalimat untuk mbak ila,
“ Mbak, jika mbak ila kakak Khitbah, mbak ila
mau menerima ndak…”. Kutekan tombol send pada mbak ila, sekejap mendapat
balasan yang cukup membuatku tenang.
“ Ach adek ini bisa saja, mbak itu
ndak cocok sama kakakmu dek, mbak mungkin punya pilihan lain, mbak sama kakamu
itu hanya teman biasa “. Ya jawaban yang memang sangat aku
harapkan namun dalamnya laut bisa diukur tapi dalamnya hati siapa juga yang
tahu. ku rangkai kembali kalimat demi meyakinkan,
“ Kakakku ganteng lhow mbak,
agamis, humoris, cocok dech jadi imam, pokoknya dambaan para Isteri..”. aku
sangat berharap jawaban penolakan dari Mbak Ila , namun ya…. Kecemasan hati
melanda kembali ketika membaca balasan Mbak ILa.
“ Masak ganteng dek, emang menurut
adek , mbak cocok ta sama kakakmu, terus kakakmu itu gimana sih orangnya…”.
sebelum membalas sms mbak ila, tak lupa pula ku rangkai sebait kalimat untuk
kakakku dengan harapan yang sama , bahwa kakak tidak menginginkan mbak ILa,
namun apa, jawaban kakak semakin menjadikan hatiku perih bagaikan teriris,
pedih yang mungkin tak ada luka sepedih ini.
“ kak, Mbak ila tanya – tanya tentang kakak,
adek mau tanya, kakak benar – benar mantap ta sama mbak ila, kok sampai
sebegitunya Tanya tentang Mbak ila…”.
“ Adekku yang cantik… ndak usah
dibahas ya, kakak ndak bisa jawab untuk saat ini, jika Mbak ila Tanya tentang
kakak , ya jawab aja tentang apa yang adek ketahui, mungkin itu bisa membantu
kakak dan Mbak ila untuk saling mengenal..”. Tetesan air
mataku tak terbendung lagi, rintik hujan kini ku temani dengan guyuran derasnya
air mata dipipi, senyum ceriaku yang selalu terlukis ketika chatting dengan
kakakku, kini telah terbalut senduh. Aku bodoh atau aku munafik, ,, kata itu terus
menghantui otakku , tanpa sadar hand phone terlepas dari tanganku dan tertidur
dalam duduk kepiluanku, hingga suara alarm membangunkan tidurku. Ku ingat
sebuah Hadist yang mengatakan bahwa “ Allah merahmati seorang perempuan yang
bangun untuk menegakkan sholat malam dan membangunkan suaminya, namun jika
suaminya enggan maka hendaklah ia
memercikkan air ke muka suaminya “, akhirnya ku ketik kalimat itu dan aku send
ke kakak dengan harapan semoga kakak bangun dan mendirikan sholat lail, yups
entah aku yang mikirnya kejauhan atau entah apa, angan – anganku selama ini
ingin menjadi isteri kakak, aku sangat menginginkan suami seperti kakak ,
kebijaksanaannya, kewibawaannya, nasehat – nasehatnya , itu semua yang
menjadikanku terus berfikir ingin memiliki imam yang bisa menuntunku agar
selalu istiqomah dijalan Allah. Tut…tut…. Hpku berbunyi tertera dilayar LCD
1message, ternyata kakak yang membalas pesanku,
”sungguh luar biasa adekku, syukron ya”.hem…
hati ini serasa bagaikan taman yang berbunga, begitu riang bagaikan anak kecil
menerima hadiah, begitu senang bagaikan balon melambung tinggi keangkasa. Ku
balas pesan singkat dari kakak,
“ kakak sudah shalat kan….”.
“ hehe belum adek, kakak lagi
banyak tugas, do’akan ya nanti kakak UAS semoga lancar…”. Sedikit
kekecewaan hinggap dihatiku karena kakak belum melaksanakan sholat lail ,
akhirnya ku coba untuk mengingatkan kakak,
“ kakak , diletakkan dulu tugasnya,
sekarang waktunya menghadap sang Rabb, shalat yang paling utama setelah sholat
Fardhu adalah shalat lail,,,sholat gih, dan adek do’akan semoga kakak lancar dan diberi kemudahan…”.
“ siap… adekku sayang..”. hem….
Kata – kata itu bagaikan pelangi yang mewarnai hari yang redup, bagaikan
matahari yang menghangatkan hari yang keluh, bagaikan rembulan yang menerangi
malam yang kelam. Entah apa yang telah merasuki otakku, takut atas siksa sang
Rabb terus menghantuiku namun aku tak bisa memungkiri bahwa perasaanku yang
menuntun diri ini. Usai shalat ku haturkan do’a – do’a panjangku berharap
ampunan dari sang Rabb atas apa yang diri ini lakukan.
“ Ya ALLah… hamba Jatuh cinta,
hamba tersiksa dengan perasaan ini, hamba mohon berikan hamba kekuatan untuk mengendalikan
perasaan ini, hamba takut akan siksamu yang begitu pedih, hamba juga takut akan
azabmu yang begitu perih..”. ku ambil hand phoneku,
ku rangkai kembali kalimat untuk Mbak ila , kuawali dengan salam pembuka.
“ Assalamu’alaikum mbakku yang
cantik , calon kakak iparku…”. Ya.. kalimat basa basi
itu ku rangkai demi menjalin persaudaraan antara kami berdua.
“ Wa’alaikum salam ade kecil… lagi
apa ini..??”. yups… sebutan adek kecil memang selalu
mbak ila uatarakan begitu pula dengan kakak , dia selalu memanggilku dengan
panggilan adek kecil. Ku ketik sebait kalimat kembali .
“ lagi bantuin kakakku mencari Bidadarinya
niech mbak, ech mbk boleh Tanya ndak, kakak pernah sms atau televon Mbak ila
ndak…??”. Kalimat itu sengaja aku rangakai dan pertanyaan itu
sengaja aku haturkan untuk mendapat sebuah kebenaran , apakah kakakku berbohong
atau tidak karena kakak selalu mengatakan bahwa kakak belum pernah sekalipun
berkomunikasi dengan mbak ila, namun kekecewaan seakan bagaikan petir disiang
bolong, jawaban mbak ila membuwatku begitu kecewa dengan kakak.
“ ehm… jawab ndak ya,,, iya dek
mbak sering sms-an kadang juga televon, tapi kakakmu kalau televon pakai nomer
pabrik, karena kalau pakai nomernya, mbak ndak pernah angkat..”. kakak
pembohong,,, kata itu terus membayangi fikiranku, entah mengapa aku begitu
kecewa entah karena kakak berbohong, atau karena rasa cemburu karena sering
komunikasinya kakak dengan mbak ila. Aku ingin marah tapi pada siapa, aku ingin
mengadu tapi tak ada satupun yang mengerti perasaanku, hanya Allah yang selalu
ada, ketika aku sedih, senang, dan ketika tak ada satupun orang yang bisa
mengulurkan belas kasihan. Sedikit demi sedikit ku coba untuk rela dengan apa
yang terjadi, aku sadar, mengapa aku mengidolakan sosok kakak yang memang hanya
seorang manusia yang tak sempurna, kadang salah dan juga lupa, aku sadar rasa
tidak halal ini seharusnya tak selalu aku pelihara, aku sangat bersyukur ketika
aku mulai tersesat , Allah menunjukkan aku dan menuntunku kejalan yang benar.
Namun aku juga manusia , yang memiliki Ghorizah ( Naluri ) merasakan cinta dan
dicintai, aku tak bisa memungkiri semua itu, karena memang Allah menciptakan
manusia dengan diberikan Naluri, cinta itu Fitrah , kata – kata itu selalu aku
dengar dari Mushrifahku , namun kita harus bisa mengendalikan, jangan sampai cinta
itu yang menuntun kita kepada kemaksiatan, tapi tuntunlah cinta itu kejalan
penuh Keridhoan. Yups… kalimat itu terus terpatri dalam ingatanku, dan selalu
aku jadikan sebuah nasihat , ketika hati ini merasakan kecewa, ketika hati ini
merasakan dusta, dan ketika aku mulai terseret dalam lembah tipu daya. Namun
aku juga akhwat biasa, bukan Wonder Woman yang begitu kebal, aku bisa merasakan
sakit, aku sangat benci dibohongi, karena begitu sakit ketika kepercayaan ini dihianati.
Matahari pagi ini tak kusambut dengan lukisan wajah indah seperti biasa, namun
senyum semangat sang mentari ku sambut dengan wajah senduh dan pilu.
Tututut..tututut…. hpku berbunyi , sebenarnya malas menerima panggilan kakak,
namun aku harus bisa mengendalikan perasaanku, dengan begitu malas ketekan
tombol dan ku ucapkan salam.
“ Assalamu’alaikum..”. salamku
dengan nada agak jutek.
“ Wa’alaikum salam wr.wb, kayaknya
adekku kok lagi manyun ya… jelek lhow..”. Goda kakak
membalas salamku.
“ Ndak papa, Cuma lagi males..”.
Jawabku dengan sangat malas, dan nada bicara yang sedikit membentak.
“ Adek… kok suaranya kayak kodok ya
kalau lagi marah, memangnya kenapa toch, kakak punya salah atau gimana..”. Ucap
kakak dengan nada bicara yang begitu halus, dan seakan memang benar – benar
ingin tahu , mengapa aku bersikap tidak seperti biasa.
“ Kakak Pembohong, aku kecewa sama
kakak…”. Bentakku dan langsung menutup telefon tanpa salam.
Mungkin sikap dan responku salah , namun aku benar – benar tidak bisa mengontrol,
kalimat Istighfar terus terucap disudut bibirku. Kakak terus memanggil , tapi
selalu aku tolak , aku tidak mau jika responku menyakiti kakak, lebih baik
tidak aku angkat telfonnya, daripada aku angkat tapi aku sakit hati dan
memarahinya. Setelah telefon beberapa kali tidak aku angkat, kakak mengirimkan
sms dengan sebait kata yang mampu membuwat aku sadar dan menyesal.
“ Adekku, jika kakak punya salah ,
tolong diingatkan, bukan begini respon yang sebenarnya, kakak tahu adek kecewa
, tapi setidaknya adek bisa mengingatkan kakak, ingat dek kakak juga manusia
yang tidak luput dari salah, meski kakak mencoba untuk selalu benar..”. Kata
– kata itu mampu meneteskan air mataku, meski itu hanya kata – kata tapi aku
bisa merasakan , kakak begitu hati – hati dan halus dalam mengungkapkannya. Aku
seharusnya bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, aku harus bisa
mengendalikan emosiku. Sekejap aku teringat sebuah Hadist yang berbunyi “ Orang
yang paling kuat adalah yang bisa menahan emosi dan marahnya“. Akhirnya aku
putuskan mengetik sebait kalimat untuk kakak dengan begitu hati –hati.
“ kakak.. adek minta maaf , adek
sadar adek salah, seharusnya bukan seperti itu respon adek, seharusnya adek
bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, adek minta maaf kak tidak bisa
mengendalikan emosi..”. Setelah ku ketik kalimat itu dan
ku kirim ke kakak, kakak langsung menelfonku, dengan hati – hati ku ucapkan
salam .
“ Assalamu’alaikum…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, wach
sekarang suaranya sudah ndak kayak kodok lagi,,”. Goda
kakak yang mampu buwat aku tersenyum.
“ Hehe, bisa aja..”.
“ Uda ndak manyun lagi kan,,,
adek,, kakak minta maaf ya kalau buwat adek sakit hati dan kecewa, masak mau
Ramadhan kok kakak dimusuhin sih..”.
“ iya kak, sama – sama , aku juga
minta maaf ..”.
“ Iya, yaudah ndang berangkat ke
Sekolah gih.. nanti telat..”.
“ Iya kak, Assalamu’alaikum Wr.Wb.”
Hem…
memang kalau berhadapan dengan kakak, aku tidak bisa ngambek lama – lama ,
kakak selalu bisa buwat aku sadar, mampu membuwat manyunku menjadi tawa,
membuwat marahku menjadi canda. Kini warna pelangi kembali terlukis dalam
senyumku, meski kadang kalau teringat masih sedikit sakit, tapi aku putuskan
untuk membantu kakak dalam proses Ta’aruf dengan Mbak ILa, mungkin aku bodoh
telah menyakiti hati sendiri, namun hanya itu yang bisa aku lakukan untuk
membalas semua yang telah kakak lakukan padaku. Hari demi hari proses Ta’aruf kakak semakin lancar, dengan bantuanku
menanyakan semua tentang mMbak ila kepada orang terdekatnya, begitu juga Mbak
ila yang secara langsung Tanya padaku, tentang bagaimana itu kakak. Ketika
Ta’aruf hampir selesai , aku harus menerima kenyataan bahwa kakak akan segera
menikah. Mungkin ini tidak pernah aku bayangkan, bahwa kakak akan menikah lebih
dulu dan bukan dengan aku. Tapi , toh Allah sudah menakdirkan seperti ini.
Mungkin aku akan sangat senang melihat sepasang pengantin yang berbahagia.
Suara hand phone membangunkan lamunanku. Yups.. siapa lagi kalau bukan kakak
yang menelfon.
“ Assalamu’alaikum dek…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, duch senangnya
yang mau menikah…”. Candaku dengan nada menggoda, meski tak
bisa dipungkiri bahwa hati ini tak seceria ucapanku.
“ Ach adek bisa saja.. adek datang
ya nanti dipernikahan kakak,,, adek mau jadi apanya nanti waktu Walimah..”.
“ ehm,,,, jadi trima tamunya aja
dech kak…”
“ ndak pengen jadi permaisurinya
toch… kok Cuma jadi trima tamu…”. Ucap kakak yang seakan
tahu apa yang aku inginkan, aku memang ingin sekali menjadi pengantinya bukan
menjadi trima tamu atau bahkan tamu Special.
“ ndak ach kak, Mbak ila aja yang
jadi Permaisurinya, ntar adek jadi tamu Special, memang kakak ndak mengkhitbah
dulu atau langsung nikah…”.
“ ndak dek, kakak sudah merasa
cocok, jadi buwat apa lagi diperlama..”.
“ Wach – wach uda ndak sabar ya
hehe… kapan kak minggu ini, atau minggu depan..”.
“ aduch.. kasihan adekku ,
pernikahan kakak itu besok dek, kakak aja sudah dirumah kok,,”.
“ ha..!!!!! besok..????, kok ndak
bilang – bilang sih kak, ach curang..”. Ucapku dengan nada
kaget dan agak manja, aku tidak menyangka pernikahan kakak akan secepat ini.
Aku harus bagaimana besok, siapkah aku melihat kakakku menikah.
“ hehe.. Surprise buwat adek,
pokoknya besok harus datang, kalau ndak datang kakak ndak mau kenal lagi sama
adek. Yauda dek ya telfonnya, Assalamu’alaikum..”.
“ iya kak, Wa’alaikum salam..”. Hem,,,
kakak menikah besok, perasaanku campur aduk, cemburu, sakit, perih, tidak rela,
senang, semua jadi satu, aku takut tidak kuwat melihat kakakku menikah, aku
takut meneteskan air mata didepan mereka berdua. Pagi telah beganti siang, sore
telah berganti senja, dan mentaripun terus merayap hingga tertutup malam. Dan
mungkin sebentar lagi malam akan tergantikan senyum mentari pagi. Dan saat
itulah aku berhadapan dengan sebuah kenyataan, bukan lagi sebuah lamunan
ataupun hanya sekedar angan - angan. Perjalanku menuju tempat Walimah kakak, ku
temani dengan hati yang bergetar , dag dig dug bagaikan bom yang siap meledak.
Akhirnya sampai ditempat walimah kakak, terlihat begitu banyak akhwat dan
ikhwan yang memenuhi tempat itu, dan begitu teratur dengan terpisahnya tempat
antara ikhwan dan akhwat. Kakak tidak akan pernah menyampakkan atau bahkan
melupakan hukum Syar’i. Mbak ila dengan senyum manisnya menyambutku dan
mempersilahkanku, ku peluk Mbak ila dan tanpa sadar air mataku kembali mengalir,
entah perasaan senang atau apa yang kini aku rasakan.
“ adek kecil… kok nangis, wach
pengen nikah juga ya,,,”. Goda Mbak ila sembari mengusap air
mata di pipiku.
“ Seneng aja mbak, lihat Mbak ila
dan kakak bahagia..”.
“ ehm,,, cepetan nyusul ya… ech dek
ayo kesana , Ijab Qobul akan segera dimulai..”.
“ iya Mbak, Mbak duluan yang kesana
masak pengantinnya disini, aku mau kebelakang dulu ngambil kamera ..”. Jawabku
yang sebenarnya kamera sudah di dalam tas, namun aku sengaja ingin melihat
proses Ijab Qobul dari jauh, agar aku bisa menerima kenyataan ini. Proses Ijab
Qobul pun dimulai aku hanya melihat dari jauh, air mataku terus mengguyur
bagaikan hujan tak henti – henti, sakit,, memang sakit hati ini menerima
kenyataan bahwa kakak tak akan ada lagi untukku, perih bahkan pedih, bagaikan
hati ini tersayat pecahan kaca yang tajam. Aku tidak kuwat aku ingin teriak dan
mengatakan kakak berhenti..!!! namun semua itu bukan sikap yang seharusnya aku
lakukan. Satu dua akhwat memandangku, mungkin mereka heran mengapa aku menangis
hingga seperti ini, akhirnya ada seseorang yang memelukku dari belakang dan
mencoba menenangkan aku serta menghapus air mataku, Ustadza Farah dengan begitu
lembut memelukku serta mengucapkan kata-kata bijak , yang memang sedang aku
butuhkan saat ini.
“ dek… kok nangis, anti kenapa,
ndak rela lihat Mbak ila bahagia..?”.Ucap Ustadza Farah
sembari mengelus kepalaku yang terbalut kerudung besar.
“ endak ust. Aku bahagia sekali
melihat mereka berdua, aku bisa ndak ya mendapatkan calon suwami seperti suami
Mbak ila..??”.
“ InsyaALLah dek, ingatlah janji
Allah, akhwat yang baik diperuntukkan Ikhwan yang baik pula, dan Ikhwan Yang
baik diperuntukkan Akhwat yang baik pula. Jadi anti ndak usah khawatir Allah
pasti memberikan jodoh terbaik buwat anti..”. Ucapan Ustadza
Farah memang benar – benar menenangkanku, dan membuwat hatiku ihlas menerima
semua ini. Mungkin disana Allah memberikan jodoh yang terbaik dan bahkan lebih
baik lagi buwat aku. Kakak telah menjadi suami Mbak ila, yups… usahaku membantu
Ta’aruf mereka tidak sia- sia, dan semoga aku akan menyusul mereka berdua.
-------------------000-----------------