Sekedar bacaan

Posted by Unknown , Friday, July 20, 2012 4:29 PM


RELAKU
Panas sang surya bagaikan tiada beban menyinari siang, teriknya menyilaukan aspal yang penuh fata morgana , dan berhasil membuwat diriku seakan berada dalam alat pemanas. Sungguh maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi dan juga Mentari, yang mampu menghangatkan dan menyinari seisi Bumi, yang mampu membantu kehidupan di Bumi ini, setapak demi setapak kaki ini melangkah menyusuri aspal, panas teriknya tak menyusutkan niatku menuju Rumah, yups… beginilah mungkin rasanya orang disana yang belum beruntung , menyusuri jalan menjajahkan jualan yang belum tentu laku terjual, panasnya aspal yang membakar kakinya tak mampu menggoyahkan niat untuk mencari nafkah , menghidupi anak isteri yang butuh uluran tangannya. Tut..tut… hand phoneku berbunyi tertera dilayar LCD Kakak memanggil. Ku tekan tombol dan ku awali salam dengan hati gembira,
Assalamu’alaikum kak..” ucapku sambil tak henti melangkahkan kaki ini.
“ Wa’alaikum salam… jangan menyerah ya, meskipun panas sampai membakar kulit, ingatlah disana masih banyak orang yang lebih merasakan panas dibanding adek..”. Ucapan kakak yang seakan tahu apa yang sedang aku keluhkan saat ini. Tersentak aku tersadar atas apa yang aku keluhkan dan langsung ku Ucap Istighfar telah mengeluh pada Allah.
“ kakak… kok tahu ya kalu aku sedang mengeluh….habis panas banget kok..”. Ucapku dengan nada agak manja.
“ ndak usah kayak gitu , kalu mengeluh terus berarti bukan adikku, dimana adikku yang semangatnya terus menggebu, masak adik kalah dengan semangat emak…?? Emak tiap hari mengayu sepedanya , meskipun peluh keringatnya terus tercucur, akibat sengatan sang surya, tapi emak tetap semangat tuh, ndak pernah ngeluh sama kakak..”. Nasihat kakak bagaikan cambuk bagi diriku, ya.. Ibu kakak yang biasa dipanggil emak memang bener – bener seorang perempuan yang aku idolakan, semangatnya begitu besar tanpa lelah menjajahkan ikan pindangnya demi mencari nafkah.
“ iya kakakku,,, makasih ya sudah mengingatkan, udah dulu ya telfonnya, ndak enak dilihat orang , karena adek masih jalan kak, belum nyampe rumah..”.
“ iya adek,, tetap semangat ya…Assalamu’alaikum..”
“ Wa’alaikum salam wr.wb..”
Hem… kakak,, sebenarnya sih kakak bukan kakak kandungku tetapi dia adalah kakak kelasku yang sudah lulus, Hasan Abdullah itu namanya, tapi aku lebih sering memanggilnya kakak, ya…biar lebih enak dan mudah saja. Kakak memang bener – bener jadi inspirasi buwat ku, jadi penasehatku, jadi tempat curhatku dan jadi tempatku bertanya tentang apa yang belum aku tahu, namun , lama – lama hatiku menyimpan rasa yang memang tidak biasa kepada kakak, meski terus ku coba untuk mengendalikan tapi tetap saja hati ini tak bisa berbohong. Kewibawaannya terus melekat dalam instingku yang memberikan motivasi agar diri ini terus semangat untuk maju , dan menjadi seorang Mujahidah sejati.
“ akhirnya nyampe rumah juga, assalamu’alaikum….”. Ucapku sambil membuka pintu, rumah sepi bagaikan tanpa penghuni, entah kemana ummi. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur , tak sadar aku tertidur, hingga sebuah mimpi membangunkakanku. “ Astaghfirullah… aku belum shalat,,” gumamku sambil bergegas masuk kamar mandi. Segarnya air ini ,, berhasil menghidupkan sendi – sendi tubuhku, yang seakan terbakar oleh teriknya matahari ketika jalan tadi.Usai shalat seakan jiwa ini begitu tenang, damai, tanpa sedikitpun rasa hampa yang menghinggapi. Mentari mulai merangkak kearah barat, senja mulai merayap disore hari, jingga terlukis begitu anggun menghiasi langit sore. Hingga sedikit demi sedikit mentari tertutup kelamnya sang malam, hangat sinarnya tergantikan terangnya sinar rembulan. Tutut…tutut… suara hand phone mengagetkanku Ustadza Farah memanggilku, ku tekan tombol dan ku jawab salam dari ustadza pembimbingku.
“ Assalamu’alaikum dik… “ ucap ust.Farah dengan begitu lembut
“Wa’alaikum salam wr.wb…”
“ Anti besok bisa ikut Masyiroh ndak dik, dalam rangka Tarhib Ramadhan…”
“ InsyaALLah bisa ust. ..”
“ ehm… ya sudah besok saya tunggu , jam 06.00 wib. Harus sudah kumpul, dan semoga niat kita selalu dalam jalan dakwah…”.
“ oke Ust. Terimakasih ya…”
“ iya dik, ya sudah ndang belajar gih… Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam wr.wb..”
Alhamdulilah pahala telah didepan mata, hem… begitu nikmat ketika diri ini harus berjuang demi agama Allah. Keringat ini bagaikan air Surga yang mengaliri semangat para Pejuang Allah. Malam semakin larut tak sabar diri ini menunggu detik – detik terindah menjelang Ramadhan, semangat ini terus berkobar seakan pejuang yang akan menuju Medan Perang. Usai shalat subuh ku bergegas menuju tempat berkumpulnya para Mujahid dan Mujahidah, meski jarak yang ku tempuh lumayan jauh dan tiupan angin pagi yang menusuk tubuhku, tak menyurutkan semangat berjuang ini. Mentari senyum menyambut hangatnya pagi, menyinari embun diatas dedaunan membangunkan burung menyanyikan  nada syahdu. Kini dinginnya pagi telah dihangatkan sang mentari, sesampaiku di Mushola tempat berkumpul, ku pandang wajah – wajah Mujahidah yang begitu berseri – seri layaknya Bidadari Surga Illahi. Begitu erat hubungan kami, rasa kasih sayang persaudaraan diantara sesama Muslim memang benar – benar beda dengan yang lain, kami sangat memperhatikan apa yang saudara kami rasakan, tidak lama seorang akhwat datang, dari kejauhan aku mengenal , Mbak Ila akhwat cantik yang sering kakak sebut namanya. “Assalamu’alaikum dik…kok rajin banget datang duluan, tadi berangkat sendirian ta…?”.
Wa’alaikum salam wr.wb,, iya mbak tadi sendirian, habisnya mau hubungi mbak ila ech belum punya nomer hpnya..”.
Akhirnya setelah semua lengkap kami berangkat menuju tempat tujuan, roda mobil yang kami tumpangi terus berputar menempuh jalan yang begitu panjang, namun lelah perjalanan itu, semua terbayarkan dengan rasa takjub dalam hatiku, mataku tertuju pada barisan akhwat yang begitu banyak, sangat anggun, benar – benar menerapkan syari’at Allah. Semangat kami kembali menggebu, menyusuri jalan raya dengan Takbir dan Shalawat yang terus menggema, menghiasi bibir ini, dan mendobrak pintu hati saudara – saudara kami. Kalimat – kalimat indah terus terlantun hingga anak kecilpun tertarik mengucapkannya,,,
Ramadhan Bulan Dakwah
Ramadhan Barokah
Islam Tegakkan
Syari’at Terapkan
Khilafah Dirikan
Allahu Akbar
Kalimat – kalimat itu terus terlantun, dengan semangat yang sangat berkobar seakan mengalahkan rasa lelah yang bersarang. Saatnya kami pulang menuju rumah tempat berteduh, meregangkan otot – otot yang kaku. Mobil terus berjalan ditengah terik matahari , jalan yang tak rata sesekali menghambat perjalan kami , ku lihat para Akhwat tertidur dalam mobil, mungkin akibat lelah setelah setengah hari menyusuri jalan dengan  melantunkan Kalimat – kalimat Indah. Akhirnya kami memutuskan berhenti di Masjid untuk mendirikan Shalat, butiran air Wudhu mengalirkan ion – ion positif dalam tubuh ini, begitu segar bagaikan air surga yang mengalir, mampu melenyapkan rasa lelah,, usai Shalat kami melanjutkan perjalanan Pulang dengan berganti kendaraan, ya … aku pulang bersama mbak ila dan Akhwat yang lain , yang rumahnya searah dengan aku, angkot menjadi pilihan kami. Kernek jail tak jarang kami temui, seperti saat ini, dengan kecantikan Mbak Ila, mampu menggerakkan jemari kernek yang berusaha merayap dipipi Mbak Ila, sorot mata tajam bagaikan elang ketika kernek itu memandang wajah Mbak Ila. Dalam hati aku berfikir, apakah setiap lelaki seperti ini, ketika melihat Akhwat yang cantik, Ya.. Allah semoga engkau memberikan aku jodoh yang Sholeh. Mujahid yang aku harapkan menjadi Imam dalam rumah tanggaku nanti. Sesampai dirumah ku rebahkan tubuhku diatas kursi Shofa,ketika mata hendak tertutup , suara hp membangunkanku, kakak kembali menelfonku menanyakan kegiatanku hari ini.
“ Assalamu’alaikum adik kecil…”.
“ Wa’alaikum salam kak…”
“ Bagaimana tadi ketemu dengan mbak ila ndak…terus ngobrol apa aja dengan mbak ila…?”. Tanya kakak seakan bener – bener pengen tahu tentang mbak ila. Hem.. mbak ila lagi , mbak ila lagi, gerutuku dalam hati.
“ Adek Kecil…. Kok diam aja,,gimana tadi…”.
“ hehe… iya tadi bertemu dengan mbak ila kak, ya ngobrol – ngobrol biasa aja,,”
“ mbak ila tadi bagaimana, pakek jilbab dan krudung syar’I ndak…”.
“ iya kakak…uda ach mbak ila terus dech…”. Gumamku pada kakak yang menginginkan pembahasan yang lain.
“ hehe adek kecil..adek kecil.. gimana tadi ngajinya...”
“ ndak ngaji kok kak, tadi ikut Masyiroh,, Alhamdulilah semakin menumbuhkan semangat- semangat Mujahidah…”.
“ Alhamdulilah… tetap Istiqomah ya…Yaudah ndang istirahat pasti lelah, Assalamu’alaikum..”.
“ InsyaAllah kak, Wa’alaikum Salam Wr.Wb.”.
Kurebahkan tubuhku , sedikit demi sedikit mata mulai terpejam. Putaran kipas angin menambah nikmatnya waktu istirahat. Hingga sayu – sayu terdengar suara lembut membangunkanku, ummi dengan begitu hati – hati.
“ ndang mandi Fi… uda sore, tadi mau ummi bangunkan tapi kelihatannya anti kecapekkan banget ,tidurnya pulas jadi ndak tega ummi bangunin..”.
“ Hehe iya ni mi.. capek banget rasanya, yaudah kalau gitu tak mandi dulu..”.
“Hemm.. ummi bener – bener orang tua yang menjadi dambaan anak – anaknya.. “. Gumamku dalam hati. Hari semakin sore langit dengan suara – suara petir menemani kelamnya awan mendung, yang menandakan sebentar lagi butiran – butiran Kristal terjun diatas Bumi, menyegarkan tanah – tanah gersang, menghijaukan dedaunan, dan menumbuhkan anak – anak pohon yang akan bertunas menghiasi isi Bumi.
 Alunan rintik hujan bagaikan melodi ditengah gelapnya sang malam, menemani jiwa yang tertegun menatap butiran Kristal. Sembari memainkan polpen ditangan , ku rasakan dinginnya hembusan angin malam. Ku tutup diaryku yang sedari tadi menampung curahan hatiku. Bingung, resah, letih, hampa semua bercampur aduk saling mengadu dalam batinku. Sesekali tersirat bayangan seorang kakak yang paling berharga dalam hidupku , sesekali pula tersirat bayangan akhwat yang cantik , yang mungkin akan menjadi bidadari pilihan kakak ku. Jarum jam terus merangkak menuju pkl. 21.00 WIB. Namun perasaan ini tidak karuan entah apa yang aku rasakan, bercampur aduk bagaikan gado – gado tanpa bumbu. Ku coba merangkai sebait kata Motivasi untuk diri ini , agar aku tak terlalu larut bersama rintik hujan dimalam senduh. “ Mbak iLa…”. Nama itu terus bersarang ditelingaku, hati ini terasa cemburu ketika mendengar dan mengingat nama itu, entah apa ?? entah mengapa?? , perasaan ini terus beradu antara sayang dan cemburu. Nama itu selalu ku dengar dari mulut kakakku, entah mengapa kakak selalu menyebut nama itu, mungkin suka atau mungkin hanya sekedar ingin mengenal . namun hati ini tak bisa berbohong, rasa sakit yang mendalam tak mampu aku nafikkan , meski kadang senyum aku bumbukan agar sakit ini hanya aku yang merasakan. Ku coba adil, dan ku coba ihlas menerima apa yang kakak putuskan , meski hati terus memberontak dan ingin mengatakan Kakak Jangan…!!. Namun aku bingung dengan apa yang kini aku lakukan, aku sakit ketika kakak terus menyebut nama Mbak ila, namun aku merasa senang ketika aku membantu Kakak mengenal mbak Ila, mungkin aku bodoh membiarkan kakak yang aku sayangi dimiliki orang lain, namun apa yang harus aku lakukan jika memang mereka berdua berjodoh. Ku ambil Hand phoneku dan ku ketik sebait kalimat untuk mbak ila,
Mbak, jika mbak ila kakak Khitbah, mbak ila mau menerima ndak…”. Kutekan tombol send pada mbak ila, sekejap mendapat balasan yang cukup membuatku tenang.
“ Ach adek ini bisa saja, mbak itu ndak cocok sama kakakmu dek, mbak mungkin punya pilihan lain, mbak sama kakamu itu hanya teman biasa “. Ya jawaban yang memang sangat aku harapkan namun dalamnya laut bisa diukur tapi dalamnya hati siapa juga yang tahu. ku rangkai kembali kalimat demi meyakinkan,
“ Kakakku ganteng lhow mbak, agamis, humoris, cocok dech jadi imam, pokoknya dambaan para Isteri..”. aku sangat berharap jawaban penolakan dari Mbak Ila , namun ya…. Kecemasan hati melanda kembali ketika membaca balasan Mbak ILa.
“ Masak ganteng dek, emang menurut adek , mbak cocok ta sama kakakmu, terus kakakmu itu gimana sih orangnya…”. sebelum membalas sms mbak ila, tak lupa pula ku rangkai sebait kalimat untuk kakakku dengan harapan yang sama , bahwa kakak tidak menginginkan mbak ILa, namun apa, jawaban kakak semakin menjadikan hatiku perih bagaikan teriris, pedih yang mungkin tak ada luka sepedih ini.
kak, Mbak ila tanya – tanya tentang kakak, adek mau tanya, kakak benar – benar mantap ta sama mbak ila, kok sampai sebegitunya Tanya tentang Mbak ila…”.
“ Adekku yang cantik… ndak usah dibahas ya, kakak ndak bisa jawab untuk saat ini, jika Mbak ila Tanya tentang kakak , ya jawab aja tentang apa yang adek ketahui, mungkin itu bisa membantu kakak dan Mbak ila untuk saling mengenal..”. Tetesan air mataku tak terbendung lagi, rintik hujan kini ku temani dengan guyuran derasnya air mata dipipi, senyum ceriaku yang selalu terlukis ketika chatting dengan kakakku, kini telah terbalut senduh. Aku bodoh atau aku munafik, ,, kata itu terus menghantui otakku , tanpa sadar hand phone terlepas dari tanganku dan tertidur dalam duduk kepiluanku, hingga suara alarm membangunkan tidurku. Ku ingat sebuah Hadist yang mengatakan bahwa “ Allah merahmati seorang perempuan yang bangun untuk menegakkan sholat malam dan membangunkan suaminya, namun jika suaminya enggan maka hendaklah  ia memercikkan air ke muka suaminya “, akhirnya ku ketik kalimat itu dan aku send ke kakak dengan harapan semoga kakak bangun dan mendirikan sholat lail, yups entah aku yang mikirnya kejauhan atau entah apa, angan – anganku selama ini ingin menjadi isteri kakak, aku sangat menginginkan suami seperti kakak , kebijaksanaannya, kewibawaannya, nasehat – nasehatnya , itu semua yang menjadikanku terus berfikir ingin memiliki imam yang bisa menuntunku agar selalu istiqomah dijalan Allah. Tut…tut…. Hpku berbunyi tertera dilayar LCD 1message, ternyata kakak yang membalas pesanku,
sungguh luar biasa adekku, syukron ya”.hem… hati ini serasa bagaikan taman yang berbunga, begitu riang bagaikan anak kecil menerima hadiah, begitu senang bagaikan balon melambung tinggi keangkasa. Ku balas pesan singkat dari kakak,
“ kakak sudah shalat kan….”.
“ hehe belum adek, kakak lagi banyak tugas, do’akan ya nanti kakak UAS semoga lancar…”. Sedikit kekecewaan hinggap dihatiku karena kakak belum melaksanakan sholat lail , akhirnya ku coba untuk mengingatkan kakak,
“ kakak , diletakkan dulu tugasnya, sekarang waktunya menghadap sang Rabb, shalat yang paling utama setelah sholat Fardhu adalah shalat lail,,,sholat gih, dan adek do’akan semoga kakak  lancar dan diberi kemudahan…”.
“ siap… adekku sayang..”. hem…. Kata – kata itu bagaikan pelangi yang mewarnai hari yang redup, bagaikan matahari yang menghangatkan hari yang keluh, bagaikan rembulan yang menerangi malam yang kelam. Entah apa yang telah merasuki otakku, takut atas siksa sang Rabb terus menghantuiku namun aku tak bisa memungkiri bahwa perasaanku yang menuntun diri ini. Usai shalat ku haturkan do’a – do’a panjangku berharap ampunan dari sang Rabb atas apa yang diri ini lakukan.
“ Ya ALLah… hamba Jatuh cinta, hamba tersiksa dengan perasaan ini, hamba mohon berikan hamba kekuatan untuk mengendalikan perasaan ini, hamba takut akan siksamu yang begitu pedih, hamba juga takut akan azabmu yang begitu perih..”. ku ambil hand phoneku, ku rangkai kembali kalimat untuk Mbak ila , kuawali dengan salam pembuka.
“ Assalamu’alaikum mbakku yang cantik , calon kakak iparku…”. Ya.. kalimat basa basi itu ku rangkai demi menjalin persaudaraan antara kami berdua.
“ Wa’alaikum salam ade kecil… lagi apa ini..??”. yups… sebutan adek kecil memang selalu mbak ila uatarakan begitu pula dengan kakak , dia selalu memanggilku dengan panggilan adek kecil. Ku ketik sebait kalimat kembali .
“ lagi bantuin kakakku mencari Bidadarinya niech mbak, ech mbk boleh Tanya ndak, kakak pernah sms atau televon Mbak ila ndak…??”. Kalimat itu sengaja aku rangakai dan pertanyaan itu sengaja aku haturkan untuk mendapat sebuah kebenaran , apakah kakakku berbohong atau tidak karena kakak selalu mengatakan bahwa kakak belum pernah sekalipun berkomunikasi dengan mbak ila, namun kekecewaan seakan bagaikan petir disiang bolong, jawaban mbak ila membuwatku begitu kecewa dengan kakak.
“ ehm… jawab ndak ya,,, iya dek mbak sering sms-an kadang juga televon, tapi kakakmu kalau televon pakai nomer pabrik, karena kalau pakai nomernya, mbak ndak pernah angkat..”. kakak pembohong,,, kata itu terus membayangi fikiranku, entah mengapa aku begitu kecewa entah karena kakak berbohong, atau karena rasa cemburu karena sering komunikasinya kakak dengan mbak ila. Aku ingin marah tapi pada siapa, aku ingin mengadu tapi tak ada satupun yang mengerti perasaanku, hanya Allah yang selalu ada, ketika aku sedih, senang, dan ketika tak ada satupun orang yang bisa mengulurkan belas kasihan. Sedikit demi sedikit ku coba untuk rela dengan apa yang terjadi, aku sadar, mengapa aku mengidolakan sosok kakak yang memang hanya seorang manusia yang tak sempurna, kadang salah dan juga lupa, aku sadar rasa tidak halal ini seharusnya tak selalu aku pelihara, aku sangat bersyukur ketika aku mulai tersesat , Allah menunjukkan aku dan menuntunku kejalan yang benar. Namun aku juga manusia , yang memiliki Ghorizah ( Naluri ) merasakan cinta dan dicintai, aku tak bisa memungkiri semua itu, karena memang Allah menciptakan manusia dengan diberikan Naluri, cinta itu Fitrah , kata – kata itu selalu aku dengar dari Mushrifahku , namun kita harus bisa mengendalikan, jangan sampai cinta itu yang menuntun kita kepada kemaksiatan, tapi tuntunlah cinta itu kejalan penuh Keridhoan. Yups… kalimat itu terus terpatri dalam ingatanku, dan selalu aku jadikan sebuah nasihat , ketika hati ini merasakan kecewa, ketika hati ini merasakan dusta, dan ketika aku mulai terseret dalam lembah tipu daya. Namun aku juga akhwat biasa, bukan Wonder Woman yang begitu kebal, aku bisa merasakan sakit, aku sangat benci dibohongi, karena begitu sakit ketika kepercayaan ini dihianati. Matahari pagi ini tak kusambut dengan lukisan wajah indah seperti biasa, namun senyum semangat sang mentari ku sambut dengan wajah senduh dan pilu. Tututut..tututut…. hpku berbunyi , sebenarnya malas menerima panggilan kakak, namun aku harus bisa mengendalikan perasaanku, dengan begitu malas ketekan tombol dan ku ucapkan salam.
“ Assalamu’alaikum..”. salamku dengan nada agak jutek.
“ Wa’alaikum salam wr.wb, kayaknya adekku kok lagi manyun ya… jelek lhow..”. Goda kakak membalas salamku.
“ Ndak papa, Cuma lagi males..”. Jawabku dengan sangat malas, dan nada bicara yang sedikit membentak.
“ Adek… kok suaranya kayak kodok ya kalau lagi marah, memangnya kenapa toch, kakak punya salah atau gimana..”. Ucap kakak dengan nada bicara yang begitu halus, dan seakan memang benar – benar ingin tahu , mengapa aku bersikap tidak seperti biasa.
“ Kakak Pembohong, aku kecewa sama kakak…”. Bentakku dan langsung menutup telefon tanpa salam. Mungkin sikap dan responku salah , namun aku benar – benar tidak bisa mengontrol, kalimat Istighfar terus terucap disudut bibirku. Kakak terus memanggil , tapi selalu aku tolak , aku tidak mau jika responku menyakiti kakak, lebih baik tidak aku angkat telfonnya, daripada aku angkat tapi aku sakit hati dan memarahinya. Setelah telefon beberapa kali tidak aku angkat, kakak mengirimkan sms dengan sebait kata yang mampu membuwat aku sadar dan menyesal.
“ Adekku, jika kakak punya salah , tolong diingatkan, bukan begini respon yang sebenarnya, kakak tahu adek kecewa , tapi setidaknya adek bisa mengingatkan kakak, ingat dek kakak juga manusia yang tidak luput dari salah, meski kakak mencoba untuk selalu benar..”. Kata – kata itu mampu meneteskan air mataku, meski itu hanya kata – kata tapi aku bisa merasakan , kakak begitu hati – hati dan halus dalam mengungkapkannya. Aku seharusnya bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, aku harus bisa mengendalikan emosiku. Sekejap aku teringat sebuah Hadist yang berbunyi “ Orang yang paling kuat adalah yang bisa menahan emosi dan marahnya“. Akhirnya aku putuskan mengetik sebait kalimat untuk kakak dengan begitu hati –hati.
“ kakak.. adek minta maaf , adek sadar adek salah, seharusnya bukan seperti itu respon adek, seharusnya adek bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, adek minta maaf kak tidak bisa mengendalikan emosi..”. Setelah ku ketik kalimat itu dan ku kirim ke kakak, kakak langsung menelfonku, dengan hati – hati ku ucapkan salam .
“ Assalamu’alaikum…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, wach sekarang suaranya sudah ndak kayak kodok lagi,,”. Goda kakak yang mampu buwat aku tersenyum.
“ Hehe, bisa aja..”.
“ Uda ndak manyun lagi kan,,, adek,, kakak minta maaf ya kalau buwat adek sakit hati dan kecewa, masak mau Ramadhan kok kakak dimusuhin sih..”.
“ iya kak, sama – sama , aku juga minta maaf ..”.
“ Iya, yaudah ndang berangkat ke Sekolah gih.. nanti telat..”.
“ Iya kak, Assalamu’alaikum Wr.Wb.”
Hem… memang kalau berhadapan dengan kakak, aku tidak bisa ngambek lama – lama , kakak selalu bisa buwat aku sadar, mampu membuwat manyunku menjadi tawa, membuwat marahku menjadi canda. Kini warna pelangi kembali terlukis dalam senyumku, meski kadang kalau teringat masih sedikit sakit, tapi aku putuskan untuk membantu kakak dalam proses Ta’aruf dengan Mbak ILa, mungkin aku bodoh telah menyakiti hati sendiri, namun hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang telah kakak lakukan padaku. Hari demi hari proses Ta’aruf  kakak semakin lancar, dengan bantuanku menanyakan semua tentang mMbak ila kepada orang terdekatnya, begitu juga Mbak ila yang secara langsung Tanya padaku, tentang bagaimana itu kakak. Ketika Ta’aruf hampir selesai , aku harus menerima kenyataan bahwa kakak akan segera menikah. Mungkin ini tidak pernah aku bayangkan, bahwa kakak akan menikah lebih dulu dan bukan dengan aku. Tapi , toh Allah sudah menakdirkan seperti ini. Mungkin aku akan sangat senang melihat sepasang pengantin yang berbahagia. Suara hand phone membangunkan lamunanku. Yups.. siapa lagi kalau bukan kakak yang menelfon.
“ Assalamu’alaikum dek…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, duch senangnya yang mau menikah…”. Candaku dengan nada menggoda, meski tak bisa dipungkiri bahwa hati ini tak seceria ucapanku.
“ Ach adek bisa saja.. adek datang ya nanti dipernikahan kakak,,, adek mau jadi apanya nanti waktu Walimah..”.
“ ehm,,,, jadi trima tamunya aja dech kak…”
“ ndak pengen jadi permaisurinya toch… kok Cuma jadi trima tamu…”. Ucap kakak yang seakan tahu apa yang aku inginkan, aku memang ingin sekali menjadi pengantinya bukan menjadi trima tamu atau bahkan tamu Special.
“ ndak ach kak, Mbak ila aja yang jadi Permaisurinya, ntar adek jadi tamu Special, memang kakak ndak mengkhitbah dulu atau langsung nikah…”.
“ ndak dek, kakak sudah merasa cocok, jadi buwat apa lagi diperlama..”.
“ Wach – wach uda ndak sabar ya hehe… kapan kak minggu ini, atau minggu depan..”.
“ aduch.. kasihan adekku , pernikahan kakak itu besok dek, kakak aja sudah dirumah kok,,”.
“ ha..!!!!! besok..????, kok ndak bilang – bilang sih kak, ach curang..”. Ucapku dengan nada kaget dan agak manja, aku tidak menyangka pernikahan kakak akan secepat ini. Aku harus bagaimana besok, siapkah aku melihat kakakku menikah.
“ hehe.. Surprise buwat adek, pokoknya besok harus datang, kalau ndak datang kakak ndak mau kenal lagi sama adek. Yauda dek ya telfonnya, Assalamu’alaikum..”.
“ iya kak, Wa’alaikum salam..”. Hem,,, kakak menikah besok, perasaanku campur aduk, cemburu, sakit, perih, tidak rela, senang, semua jadi satu, aku takut tidak kuwat melihat kakakku menikah, aku takut meneteskan air mata didepan mereka berdua. Pagi telah beganti siang, sore telah berganti senja, dan mentaripun terus merayap hingga tertutup malam. Dan mungkin sebentar lagi malam akan tergantikan senyum mentari pagi. Dan saat itulah aku berhadapan dengan sebuah kenyataan, bukan lagi sebuah lamunan ataupun hanya sekedar angan - angan. Perjalanku menuju tempat Walimah kakak, ku temani dengan hati yang bergetar , dag dig dug bagaikan bom yang siap meledak. Akhirnya sampai ditempat walimah kakak, terlihat begitu banyak akhwat dan ikhwan yang memenuhi tempat itu, dan begitu teratur dengan terpisahnya tempat antara ikhwan dan akhwat. Kakak tidak akan pernah menyampakkan atau bahkan melupakan hukum Syar’i. Mbak ila dengan senyum manisnya menyambutku dan mempersilahkanku, ku peluk Mbak ila dan tanpa sadar air mataku kembali mengalir, entah perasaan senang atau apa yang kini aku rasakan.
“ adek kecil… kok nangis, wach pengen nikah juga ya,,,”. Goda Mbak ila sembari mengusap air mata di pipiku.
“ Seneng aja mbak, lihat Mbak ila dan kakak bahagia..”.
“ ehm,,, cepetan nyusul ya… ech dek ayo kesana , Ijab Qobul akan segera dimulai..”.
“ iya Mbak, Mbak duluan yang kesana masak pengantinnya disini, aku mau kebelakang dulu ngambil kamera ..”. Jawabku yang sebenarnya kamera sudah di dalam tas, namun aku sengaja ingin melihat proses Ijab Qobul dari jauh, agar aku bisa menerima kenyataan ini. Proses Ijab Qobul pun dimulai aku hanya melihat dari jauh, air mataku terus mengguyur bagaikan hujan tak henti – henti, sakit,, memang sakit hati ini menerima kenyataan bahwa kakak tak akan ada lagi untukku, perih bahkan pedih, bagaikan hati ini tersayat pecahan kaca yang tajam. Aku tidak kuwat aku ingin teriak dan mengatakan kakak berhenti..!!! namun semua itu bukan sikap yang seharusnya aku lakukan. Satu dua akhwat memandangku, mungkin mereka heran mengapa aku menangis hingga seperti ini, akhirnya ada seseorang yang memelukku dari belakang dan mencoba menenangkan aku serta menghapus air mataku, Ustadza Farah dengan begitu lembut memelukku serta mengucapkan kata-kata bijak , yang memang sedang aku butuhkan saat ini.
“ dek… kok nangis, anti kenapa, ndak rela lihat Mbak ila bahagia..?”.Ucap Ustadza Farah sembari mengelus kepalaku yang terbalut kerudung besar.
“ endak ust. Aku bahagia sekali melihat mereka berdua, aku bisa ndak ya mendapatkan calon suwami seperti suami Mbak ila..??”.
“ InsyaALLah dek, ingatlah janji Allah, akhwat yang baik diperuntukkan Ikhwan yang baik pula, dan Ikhwan Yang baik diperuntukkan Akhwat yang baik pula. Jadi anti ndak usah khawatir Allah pasti memberikan jodoh terbaik buwat anti..”. Ucapan Ustadza Farah memang benar – benar menenangkanku, dan membuwat hatiku ihlas menerima semua ini. Mungkin disana Allah memberikan jodoh yang terbaik dan bahkan lebih baik lagi buwat aku. Kakak telah menjadi suami Mbak ila, yups… usahaku membantu Ta’aruf mereka tidak sia- sia, dan semoga aku akan menyusul mereka berdua.

-------------------000-----------------


0 Response to "Sekedar bacaan"

Post a Comment