ukhti

Posted by Unknown , Tuesday, November 6, 2012 1:33 AM


UNTUK SAUDARIKU
Ketika hening menyapa hatimu
Ketika dingin memanggil dirimu
Ketika sepi menemani jiwamu
Aku disini menemani disetiap detik waktumu
Disetiap alunan langkah jejak kakimu
Petikan nada syahdu hembusan nafasmu
Kerlipan kedua mata indahmu
Tuturan lembut dari sudut bibirmu
Aku .. butuh senyuman indah dari wajahmu
Aku… butuh sentuhan lembut perhatianmu
Aku… butuh pijakan kaki untuk melangkah bersamamu
Aku juga butuh… usapan jemarimu ketika air mata menetes di pipiku
Ukhti.. aku mengenalmu bukan untuk menjadi musuhmu
Aku mengenalmu bukan untuk menjadi beban dalam hari – harimu
Aku mengenalmu bukan untuk membuwatmu meneteskan air mata berhargamu
Aku mengenalmu bukan untuk menjadikanmu sakit karena aku
Ukhti… jika kau menginginkan nafas dalam hidupku, kan ku berikan untuk hidupmu
Jika kau inginkan senyum dari tawaku,kan ku berikan tuk menggantikan air matamu
Jika kau inginkan tangis untukmu, maafkan aku karena tangis biarlah hanya untukku
Biarkan aku meneteskan air mata akupun rela, asal engkau merasa bahagia
Bahkan jika engkau menginginkan apa yang aku cinta, kan ku berikan untuk cintamu
“ AN-NAFIA “

Hikmah Sebuah Cobaan

Posted by Unknown 1:32 AM

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang hati.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis takkan mengubah apa-apa.

Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jika benci dan marah menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa, sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jika kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya, sedang taubat itu lebih utama.

Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti ingin diikukuhi sendiri, sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti membusung dada, sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama, sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dirasakan sendiri, sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka, sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

sosok terindah

Posted by Unknown 1:31 AM

Dug…..
Detak jantung seakan tak mau berhenti
Bagaikan Bom yang siap meledak
Meluluh lantakkan isi hati ini
Ya Rabb….
Jika ini memang jalanmu
Bantu aku tuk menundukkan pandanganku
Bantu aku tuk menjaga rasa cintaku
Bantu pula aku tuk menjaga rasa rinduku
Jika itu dia untukku
Ijinkanlah dia bersanding dengan ku
Dalam singgasana yang penuh dengan Rahmatmu
Tunjukkan aku jika memang dia pilihanmu
Ya Rabb…
Jika memang rasa ini tak halal bagiku
Halalkanlah rasa ini untukku jadikanlah rasa ini karenamu
Jika Memang Cinta ini tak halal bagiku
Halalkanlah dia untuk ku dan jadikanlah cinta ini karenamu
Debar jantung terus tertegun
Ku tundukkan pandangan namun hati seakan tak mau terbangun
Dari lamunan hayal tentangnya
Ya Rabb…
Ampunkanlah diri ini telah terbelenggu cinta birahi

untuk saudaraku

Posted by Unknown 1:31 AM

KUPINANG ENGKAU LEWAT SMS

Tiiit...tiiit, Tiiit...tiiit
Tanda pesan masuk yang keluar dari HP sejenak membuyarkan konsentrasi Dita. Segera ia bangkit dari meja belajarnya dan meraih 3315 kesayangannya.
“Ass wr wb. Are you Jomblo?”.
Gubrags...., Dita terduduk lemas di atas ranjangnya, bukan apa-apa, tapi kalimat pembuka dalam SMS itu lho yang bikin Dita keki. Soalnya (sst.. of the record) Dita tuch jomblo beneran gitu loh.

“Siapaaa lagi yang iseng?” Dita bertanya dalam hati, penasaran dengan kelanjutan SMS ia pun kembali membacanya.
“...Jawab Ya bila ukhti masih sendiri.  A. bila tak masih sendiri, B. bila ada yg khitbah.”
“Masya Allah kayak quiz aza dech”. Dita tersenyum kecut.
“Nol lapan tujuhbelas xxx xxx” Segera saja dibukanya buku telpon yang selalu nyempil di dompetnya. Dibukanya satu demi satu lembaran halamannya. Tak lama keningnya pun berkerut karena tak satupun nomor yang tertulis di buku teleponnya cocok dengan identitas si pengirim SMS.

“Aah dasar iseng”. Dita segera men-delete pesan tersebut. Tak lama ia kembali asyik di meja belajarnya, melajutkan tugas akhirnya yang hampir deadline itu.
Tiiit...tiiit. Kembali HP-nya berbunyi.
“Aah dia lagi”. Dita bergumam setelah melihat SMS itu datang dari nomor yang sama.
“Ass wr wb. Ukh, sy serius. Tlg jwb SMS sy, pntg. Wass”
Dita Cuma bengong baca isi SMS itu. Pikirannya segera melayang, membayangkan siapa kira-kira yang menulis pesan tersebut.
Belum habis rasa penasarannya, HP-nya kembali bunyi. Ngga tanggung-tanggung, kali ini tiga SMS masuk berturut-turut.
“Ass wr wb. Bila benar cinta itu anugerah, mencintai wanita shalihah adalah anugerah terindah. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti... ketika perasaan itu datang. Ketika shaum tak mampu lagi menghadang. Jaga pandang kini tak berarti. Karena bayang terlanjur lekat di hati. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti… dulu kulitmu bagai tersapu awan kelabu…” (uppss kalo yang terakhir sich kayak iklan pemutih kulit. He he he)

Senin 09:00 WIB
Tidak seperti biasanya, pagi itu Dita datang ke kampus dengan kewaspadaan penuh. cari teroris kalee?. Ternyata bukan, itu dilakukannya dalam rangka mencari tau siapa sih yang belakangan ini sering iseng kirim-kirim SMS. Cieee... ceritanya penasaran neh, pengen tau siapa sih the secret admirer.
Sebenarnya, ga banyak yang bisa dijadikan suspect dalam kasus ini, soalnya, sebagai aktifis dakwah kampus, doi tuch Jaim banget. Saban hari di kampus lebih banyak dihabiskannya di ruang kuliah, kalo pun keluar ya paling ke mesjid pas waktunya shalat, atau ke perpus bila mo pinjem buku. So ga banyak ikhwan yang dikenalnya, paling banter cuma temen-temen sekelasnya yang ada lima itu, selain mereka, kayaknya ga ada dech yang kenal sama dia apalagi sampe naksir segala.
Begitulah yang ada dalam pikiran Dita sekarang ini. He..he..he belum tau dia, kalo cinta tuch misterius banget kayak jelangkung. Datang ga dijemput, pergi ga dianterin. Maksudnya, untuk jatuh cinta itu terkadang ga mesti diawali kenalan dulu. Maklum…pengalaman.
“Indra... aah ga mungkin playboy itu. Lagian nomor HP-nya beda koq. Didi juga ga mungkin, soalnya kesukaan dia khan ABG yang fungky. Bimo juga mustahil, kutu buku kayak gitu mana doyan jail sama orang. Wawan dan Jay, mereka khan ga pegang HP. Jadi siapa donkz.. ah pusing”.
“Duarr… hayooo ngelamun jorki yaa”. Nina membuyarkan lamunan Dita siang itu.
“Huss asal aja kalo ngomong”
“Eh, Dit gue perhatiin loe kok bengong aja seh hari ini, mana lirik-lirik tuh cowok lima lagi, bosen ya menundukan pandangan?.
Bukannya menjawab, Dita malah ngloyor meninggalkan ruang kuliah.
“Woi tunggu, eh Dit kamu ikutan ta’lim khan siang ini”. Kata Nina sambil mengejar sohibnya.

***

Emang ga salah kata Nina, hari ini tuh beda banget buat Dita. Sejak kemunculan pesan-pesan misterius itu, pikirannya tersita untuk mencari tau siapa gerangan pengirim SMS misterius itu. Bahkan sampai ta’lim rutin yang biasanya diikuti dengan konsen pun dijadikannya ajang berbengong ria.
“Ssst Dit kamu sakit yaa?”. Kata Nina setengah berbisik
“Ngga kok, aku ga apa-apa, tapi makasih deh atas perhatiannya”
“Eh Dit, kamu ngerasa ga kalo Dikha merhatiin kamu?”  Nina tampak serius
“Ha..ha..ha ga lucu tau”. Kata Dita sambil mencubit
“Eh bener, sumpe makanya jangan bengong terus donkz”
Diam-diam Dita Geer juga, soalnya siapa sih yang ga mau diperhatiin sama Dikha Putra Khalifaa, aktifis paling dicari sekampus sekaligus salah satu anggota JI (Jomblo Idaman).
“Ahh coba kalo dia yang kirim SMS, tapi... mana mungkin, membaca saja aku tak bisa ...eh salah mana mungkin, dia khan ga kenal sama aku, biar kami satu fakultas tapi... Asstagfirullah yaa Allah jangan biarkan siapapun memalingkan hatiku dari mengingat-Mu yaa Rabb”.
Alhamdulillah syukur dech, akhirnya  Dita tersadar  kembali dari khayalannya.

***

 

Senin, 20:00 WIB

Setelah makan malam Dita mengurung diri dalam kamarnya. Rasanya ga ada yang mau dikerjakannya selain berbaring di atas tempat tidur. Dibiarkannya tugas di atas meja belajar, lagi ngga mood, begitu alasannya. Padahal, yang bener khan lagi nungguin, kali aja SMS itu datang lagi, ehmm.
Digenggamnya HP kesayangan, entah berapa kali pesan-pesan misterius itu dibacanya kembali. Siapa...? Kenapa...? Apa maksud nya...? dan seribu satu pertanyaan lainnya senantiasa berputar diatas kepala Dita, yang membuatnya semakin gelisah.

***

Ahh Dita, andai saja kamu tau, nun jauh di ujung sana, seorang mujahid tengah merasakan kegelisahan yang sama. Masih terngiang ditelinganya tausiyah yang disampaikan ustadznya beberapa waktu lalu.
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, tidak bisa menjangkau sampai kepada hakikat. Manusia hanya bisa menduga dan memperkirakan, namun tak jarang perkiraan manusia keliru. Boleh jadi kamu mengira mengira sesuatu itu baik namun ternyata ia buruk bagimu. Boleh jadi juga kamu mengira sesuatu itu buruk bagimu padahal ia baik bagimu.” Begitu kata pak ustadz sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
“Menikah adalah ibadah, jadi harus dipersiapkan secara matang. Pilihlah isteri yang shalihah yang bisa membawa kebaikan pada agamamu. Untuk itu libatkan Allah dalam perkara ini, mintalah petunjuk padanya, jangan biarkan perasaan menguasaimu. Menurut perkiraanmu bisa jadi ia adalah sosok Ummi Dambaan. Namun Allah-lah yang paling mengetahui yang terbaik untukmu. Istikharahlah!”. Lanjut ustadz
Mujahid kita ini memang belum melakukan shalat istikharah seperti yang disarankan pak ustadz. Bukan karena malas, namun ia khawatir mendapati kenyataan bila petunjuk Allah berbeda dengan  perasaannya. Abis, sudah terlanjur sayang seh. Wit wiuw.
Namun, setelah merenung dan berfikir. Akhirnya…
“Yaa Allah, kalau ia bisa membawa kebaikan untukku dan agamaku maka dekatkanlah ia, bila tidak... jauhkanlah yaa Allah.” Yess akhirnya jagoan kita ini melaksnakan nasihat dari ustadznya.

***

24:00 WIB
Tiit…tiiit... bunyi HP segera membangunkan Dita. Rasa kantuk yang menyelimuti segera sirna, terutama setelah tau nomor pengirim SMS. Dag dig dug jantungnya berdebar tak keruan. Segera dibukanya SMS itu.
“Ass wr wb. Ukhti, ketika seseorang datang dengan niat suci, didepan pintu ia berdiri. Apakah kan kau ijinkan ia disisi, ataukah kau biarkan ia sendiri?. Wass”
Kali ini Dita ga tahan untuk cuek, segera saja dibalasnya SMS tersebut.
“Ass wr wb. Akhi, bila benar membawa niat suci, kenapa harus sembunyi. Bukanlah seorang pemberani pantang untuk bersembunyi jika ia berjalan pada kebenaran?, apalagi harus menyembunyikan jati diri. Wass.”
Tiit...tiiit  Message sent
Tiiit...tiiit tak lama jawaban pun tiba.
“Ass wr wb. Ketika petunjuk memperkuat perasaan, sirnalah keraguan dan tiba saat berterus terang. Berbekal azzam dan tawakal, melalui SMS ini saya bermaksud menyatakan niat suci kepada ukhti.”
“Menikah adalah sunnah, wanita shalihah itu anugerah, khitbah hanyalah langkah, tujuannya keluarga sakinah. Dari temanmu Dikha Putra Khalifa.

Gubrags... Dita semaput ketika mengetahui nama si pengirim pesan.


****


Catet: Khitbah disampaikan kepada wali, jadi bila keukeuh pengen lewat SMS, kirim sama bapaknya. OK!
(Buat temen koe yang mo khitbah, cerpen ini untukmu friend)


SMS

Posted by Unknown 1:30 AM


KUPINANG ENGKAU LEWAT SMS

Tiiit...tiiit, Tiiit...tiiit
Tanda pesan masuk yang keluar dari HP sejenak membuyarkan konsentrasi Dita. Segera ia bangkit dari meja belajarnya dan meraih 5200 kesayangannya.
“Ass wr wb. Are you Jomblo?”.
Gubrags...., Dita terduduk lemas di atas ranjangnya, bukan apa-apa, tapi kalimat pembuka dalam SMS itu lho yang bikin Dita keki. Soalnya (sst.. of the record) Dita tuch jomblo beneran gitu loh.

“Siapaaa lagi yang iseng?” Dita bertanya dalam hati, penasaran dengan kelanjutan SMS ia pun kembali membacanya.
“...Jawab Ya bila ukhti masih sendiri..  A. bila tak masih sendiri, B. bila ada yg khitbah.”
“Masya Allah kayak quis aja dech”. Dita tersenyum kecut.
“Nol lapan limaenam xxx xxx xx” Segera saja dibukanya buku telpon yang selalu nyempil di dompetnya. Dibukanya satu demi satu lembaran halamannya. Tak lama keningnya pun berkerut karena tak satupun nomor yang tertulis di buku teleponnya cocok dengan identitas si pengirim SMS.

“Ah dasar iseng”. Dita segera men-delete pesan tersebut. Tak lama ia kembali asyik di meja belajarnya, melajutkan tugas akhirnya yang hampir deadline itu.
Tiiit...tiiit. Kembali HP-nya berbunyi.
“Ah dia lagi”. Dita bergumam setelah melihat SMS itu datang dari nomor yang sama.
“Ass wr wb. Ukh, saya serius. Tlg jwb SMS sya, pntg. Wass”
Dita Cuma bengong baca isi SMS itu. Pikirannya segera melayang, membayangkan siapa kira-kira yang menulis pesan tersebut.
Belum habis rasa penasarannya, HP-nya kembali bunyi. Nggak tanggung-tanggung, kali ini tiga SMS masuk berturut-turut.
“Ass wr wb. Bila benar cinta itu anugerah, mencintai wanita shalihah adalah anugerah terindah. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti... ketika perasaan itu datang. Ketika shaum tak mampu lagi menghadang. Jaga pandang kini tak berarti. Karena bayang terlanjur lekat di hati. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti… dulu kulitmu bagai tersapu awan kelabu…” (uppss kalo yang terakhir sich kayak iklan pemutih kulit. He he he)

Senin 09:00 WIB
Tidak seperti biasanya, pagi itu Dita datang ke Sekolah dengan kewaspadaan penuh. cari teroris kalee?, Ternyata bukan, itu dilakukannya dalam rangka mencari tau siapa sih yang belakangan ini sering iseng kirim-kirim SMS. Cieee... ceritanya penasaran neh, pengen tau siapa sih the secret admirer.
Sebenarnya, ga banyak yang bisa dijadikan suspect dalam kasus ini, soalnya, sebagai aktifis dakwah Sekolah, doi tuch Jaim banget. Saban hari di Sekolah lebih banyak dihabiskannya di ruang kelas, kalo pun keluar ya paling ke mesjid pas waktunya shalat, atau ke perpus bila mo pinjem buku. So ga banyak ikhwan yang dikenalnya, paling banter cuma temen-temen sekelasnya yang ada lima itu, selain mereka, kayaknya ga ada dech yang kenal sama dia apalagi sampe naksir segala.
Begitulah yang ada dalam pikiran Dita sekarang ini. He..he..he belum tau dia, kalo cinta tuch misterius banget kayak jelangkung. Datang ga dijemput, pergi ga dianterin. Maksudnya, untuk jatuh cinta itu terkadang ga mesti diawali kenalan dulu. Maklum…pengalaman.
“Indra... ah ga mungkin playboy itu. Lagian nomor HP-nya beda kok. Didi juga ga mungkin, soalnya kesukaan dia kan ABG yang fungky. Bimo juga mustahil, kutu buku kayak gitu mana doyan jail sama orang. Wawan dan Jay, mereka kan gak pegang HP. Jadi siapa donk.. ah pusing”.
“Duarr… hayooo ngelamun jorki yaa”. Nina membuyarkan lamunan Dita siang itu.
“Huss asal aja kalo ngomong”
“Eh, Dit gue perhatiin loe kok bengong aja seh hari ini, mana lirik-lirik tuh cowok lima lagi, bosen ya menundukan pandangan?.
Bukannya menjawab, Dita malah ngloyor meninggalkan ruang kelas.
“Woi tunggu, eh Dit kamu ikutan LDS kan siang ini”. Kata Nina sambil mengejar sohibnya.

***

Emang ga salah kata Nina, hari ini tuh beda banget buat Dita. Sejak kemunculan pesan-pesan misterius itu, pikirannya tersita untuk mencari tau siapa gerangan pengirim SMS misterius itu. Bahkan sampai LDS rutin yang biasanya diikuti dengan konsen pun dijadikannya ajang berbengong ria.
“Ssst Dit kamu sakit yaa?”. Kata Nina setengah berbisik
“Ngga kok, aku gak apa-apa, tapi makasih deh atas perhatiannya”
“Eh Dit, kamu ngerasa gak kalo Dikha merhatiin kamu?”  Nina tampak serius
“Ha..ha..ha ga lucu tau”. Kata Dita sambil mencubit
“Eh bener, sumpe makanya jangan bengong terus donk”
Diam-diam Dita Geer juga, soalnya siapa sih yang gak mau diperhatiin sama Dikha Putra Khalifaa, aktifis paling dicari sesekolah sekaligus salah satu anggota JI (Jomblo Idaman).
“Ahh coba kalo dia yang kirim SMS, tapi... mana mungkin, membaca saja aku tak bisa ...eh salah mana mungkin, dia kan ga kenal sama aku, biar kami satu Sekolah tapi... Asstagfirullah yaa Allah jangan biarkan siapapun memalingkan hatiku dari mengingat-Mu yaa Rabb”.
Alhamdulillah syukur dech, akhirnya  Dita tersadar  kembali dari khayalannya.

***

 

Senin, 20:00 WIB

Setelah makan malam Dita mengurung diri dalam kamarnya. Rasanya gak ada yang mau dikerjakannya selain berbaring di atas tempat tidur. Dibiarkannya tugas di atas meja belajar, lagi nggak mood, begitu alasannya. Padahal, yang bener kan lagi nungguin, kali aja SMS itu datang lagi, ehmm.
Digenggamnya HP kesayangan, entah berapa kali pesan-pesan misterius itu dibacanya kembali. Siapa...? Kenapa...? Apa maksud nya...? dan seribu satu pertanyaan lainnya senantiasa berputar diatas kepala Dita, yang membuatnya semakin gelisah.

***

Ahh Dita, andai saja kamu tau, nun jauh di ujung sana, seorang mujahid tengah merasakan kegelisahan yang sama. Masih terngiang ditelinganya tausiyah yang disampaikan ustadznya beberapa waktu lalu.
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, tidak bisa menjangkau sampai kepada hakikat. Manusia hanya bisa menduga dan memperkirakan, namun tak jarang perkiraan manusia keliru. Boleh jadi kamu mengira mengira sesuatu itu baik namun ternyata ia buruk bagimu. Boleh jadi juga kamu mengira sesuatu itu buruk bagimu padahal ia baik bagimu.” Begitu kata pak ustadz sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
“Menikah adalah ibadah, jadi harus dipersiapkan secara matang. Pilihlah isteri yang shalihah yang bisa membawa kebaikan pada agamamu. Untuk itu libatkan Allah dalam perkara ini, mintalah petunjuk padanya, jangan biarkan perasaan menguasaimu. Menurut perkiraanmu bisa jadi ia adalah sosok Ummi Dambaan. Namun Allah-lah yang paling mengetahui yang terbaik untukmu. Istikharahlah!”. Lanjut ustadz
Mujahid kita ini memang belum melakukan shalat istikharah seperti yang disarankan pak ustadz. Bukan karena malas, namun ia khawatir mendapati kenyataan bila petunjuk Allah berbeda dengan  perasaannya. Abis, sudah terlanjur sayang seh. Wit wiuw.
Namun, setelah merenung dan berfikir. Akhirnya…
“Yaa Allah, kalau ia bisa membawa kebaikan untukku dan agamaku maka dekatkanlah ia, bila tidak... jauhkanlah yaa Allah.” Yess akhirnya jagoan kita ini melaksnakan nasihat dari ustadznya.

***

24:00 WIB
Tiit…tiiit... bunyi HP segera membangunkan Dita. Rasa kantuk yang menyelimuti segera sirna, terutama setelah tau nomor pengirim SMS. Dag dig dug jantungnya berdebar tak karuan. Segera dibukanya SMS itu.
“Ass wr wb. Ukhti, ketika seseorang datang dengan niat suci, didepan pintu ia berdiri. Apakah kan kau ijinkan ia disisi, ataukah kau biarkan ia sendiri?. Wass”
Kali ini Dita ga tahan untuk cuek, segera saja dibalasnya SMS tersebut.
“Ass wr wb. Akhi, bila benar membawa niat suci, kenapa harus sembunyi. Bukanlah seorang pemberani pantang untuk bersembunyi jika ia berjalan pada kebenaran?, apalagi harus menyembunyikan jati diri. Wass.”
Tiit...tiiit  Message sent
Tiiit...tiiit tak lama jawaban pun tiba.
“Ass wr wb. Ketika petunjuk memperkuat perasaan, sirnalah keraguan dan tiba saat berterus terang. Berbekal azzam dan tawakal, melalui SMS ini saya bermaksud menyatakan niat suci kepada ukhti.”
“Menikah adalah sunnah, wanita shalihah itu anugerah, khitbah hanyalah langkah, tujuannya keluarga sakinah. Dari temanmu Dikha Putra Khalifa.

Gubrags... Dita semaput ketika mengetahui nama si pengirim pesan.



NB. BAGI SAUDARAKU YANG MAU MEMINANG NGOMONG LANGSUNG SAJA KE ORTUNYA BUKAN KE ANAKNYA, KALAU MAU SMS YA KIRIM AJA KE BAPAKNYA BUKAN KE ANAKNYA.
****