ukhti

Posted by Unknown , Tuesday, November 6, 2012 1:33 AM


UNTUK SAUDARIKU
Ketika hening menyapa hatimu
Ketika dingin memanggil dirimu
Ketika sepi menemani jiwamu
Aku disini menemani disetiap detik waktumu
Disetiap alunan langkah jejak kakimu
Petikan nada syahdu hembusan nafasmu
Kerlipan kedua mata indahmu
Tuturan lembut dari sudut bibirmu
Aku .. butuh senyuman indah dari wajahmu
Aku… butuh sentuhan lembut perhatianmu
Aku… butuh pijakan kaki untuk melangkah bersamamu
Aku juga butuh… usapan jemarimu ketika air mata menetes di pipiku
Ukhti.. aku mengenalmu bukan untuk menjadi musuhmu
Aku mengenalmu bukan untuk menjadi beban dalam hari – harimu
Aku mengenalmu bukan untuk membuwatmu meneteskan air mata berhargamu
Aku mengenalmu bukan untuk menjadikanmu sakit karena aku
Ukhti… jika kau menginginkan nafas dalam hidupku, kan ku berikan untuk hidupmu
Jika kau inginkan senyum dari tawaku,kan ku berikan tuk menggantikan air matamu
Jika kau inginkan tangis untukmu, maafkan aku karena tangis biarlah hanya untukku
Biarkan aku meneteskan air mata akupun rela, asal engkau merasa bahagia
Bahkan jika engkau menginginkan apa yang aku cinta, kan ku berikan untuk cintamu
“ AN-NAFIA “

Hikmah Sebuah Cobaan

Posted by Unknown 1:32 AM

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang hati.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis takkan mengubah apa-apa.

Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jika benci dan marah menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti diumbar sepuas rasa, sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jika kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya, sedang taubat itu lebih utama.

Jika harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti ingin diikukuhi sendiri, sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti membusung dada, sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama, sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti dirasakan sendiri, sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka, sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

sosok terindah

Posted by Unknown 1:31 AM

Dug…..
Detak jantung seakan tak mau berhenti
Bagaikan Bom yang siap meledak
Meluluh lantakkan isi hati ini
Ya Rabb….
Jika ini memang jalanmu
Bantu aku tuk menundukkan pandanganku
Bantu aku tuk menjaga rasa cintaku
Bantu pula aku tuk menjaga rasa rinduku
Jika itu dia untukku
Ijinkanlah dia bersanding dengan ku
Dalam singgasana yang penuh dengan Rahmatmu
Tunjukkan aku jika memang dia pilihanmu
Ya Rabb…
Jika memang rasa ini tak halal bagiku
Halalkanlah rasa ini untukku jadikanlah rasa ini karenamu
Jika Memang Cinta ini tak halal bagiku
Halalkanlah dia untuk ku dan jadikanlah cinta ini karenamu
Debar jantung terus tertegun
Ku tundukkan pandangan namun hati seakan tak mau terbangun
Dari lamunan hayal tentangnya
Ya Rabb…
Ampunkanlah diri ini telah terbelenggu cinta birahi

untuk saudaraku

Posted by Unknown 1:31 AM

KUPINANG ENGKAU LEWAT SMS

Tiiit...tiiit, Tiiit...tiiit
Tanda pesan masuk yang keluar dari HP sejenak membuyarkan konsentrasi Dita. Segera ia bangkit dari meja belajarnya dan meraih 3315 kesayangannya.
“Ass wr wb. Are you Jomblo?”.
Gubrags...., Dita terduduk lemas di atas ranjangnya, bukan apa-apa, tapi kalimat pembuka dalam SMS itu lho yang bikin Dita keki. Soalnya (sst.. of the record) Dita tuch jomblo beneran gitu loh.

“Siapaaa lagi yang iseng?” Dita bertanya dalam hati, penasaran dengan kelanjutan SMS ia pun kembali membacanya.
“...Jawab Ya bila ukhti masih sendiri.  A. bila tak masih sendiri, B. bila ada yg khitbah.”
“Masya Allah kayak quiz aza dech”. Dita tersenyum kecut.
“Nol lapan tujuhbelas xxx xxx” Segera saja dibukanya buku telpon yang selalu nyempil di dompetnya. Dibukanya satu demi satu lembaran halamannya. Tak lama keningnya pun berkerut karena tak satupun nomor yang tertulis di buku teleponnya cocok dengan identitas si pengirim SMS.

“Aah dasar iseng”. Dita segera men-delete pesan tersebut. Tak lama ia kembali asyik di meja belajarnya, melajutkan tugas akhirnya yang hampir deadline itu.
Tiiit...tiiit. Kembali HP-nya berbunyi.
“Aah dia lagi”. Dita bergumam setelah melihat SMS itu datang dari nomor yang sama.
“Ass wr wb. Ukh, sy serius. Tlg jwb SMS sy, pntg. Wass”
Dita Cuma bengong baca isi SMS itu. Pikirannya segera melayang, membayangkan siapa kira-kira yang menulis pesan tersebut.
Belum habis rasa penasarannya, HP-nya kembali bunyi. Ngga tanggung-tanggung, kali ini tiga SMS masuk berturut-turut.
“Ass wr wb. Bila benar cinta itu anugerah, mencintai wanita shalihah adalah anugerah terindah. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti... ketika perasaan itu datang. Ketika shaum tak mampu lagi menghadang. Jaga pandang kini tak berarti. Karena bayang terlanjur lekat di hati. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti… dulu kulitmu bagai tersapu awan kelabu…” (uppss kalo yang terakhir sich kayak iklan pemutih kulit. He he he)

Senin 09:00 WIB
Tidak seperti biasanya, pagi itu Dita datang ke kampus dengan kewaspadaan penuh. cari teroris kalee?. Ternyata bukan, itu dilakukannya dalam rangka mencari tau siapa sih yang belakangan ini sering iseng kirim-kirim SMS. Cieee... ceritanya penasaran neh, pengen tau siapa sih the secret admirer.
Sebenarnya, ga banyak yang bisa dijadikan suspect dalam kasus ini, soalnya, sebagai aktifis dakwah kampus, doi tuch Jaim banget. Saban hari di kampus lebih banyak dihabiskannya di ruang kuliah, kalo pun keluar ya paling ke mesjid pas waktunya shalat, atau ke perpus bila mo pinjem buku. So ga banyak ikhwan yang dikenalnya, paling banter cuma temen-temen sekelasnya yang ada lima itu, selain mereka, kayaknya ga ada dech yang kenal sama dia apalagi sampe naksir segala.
Begitulah yang ada dalam pikiran Dita sekarang ini. He..he..he belum tau dia, kalo cinta tuch misterius banget kayak jelangkung. Datang ga dijemput, pergi ga dianterin. Maksudnya, untuk jatuh cinta itu terkadang ga mesti diawali kenalan dulu. Maklum…pengalaman.
“Indra... aah ga mungkin playboy itu. Lagian nomor HP-nya beda koq. Didi juga ga mungkin, soalnya kesukaan dia khan ABG yang fungky. Bimo juga mustahil, kutu buku kayak gitu mana doyan jail sama orang. Wawan dan Jay, mereka khan ga pegang HP. Jadi siapa donkz.. ah pusing”.
“Duarr… hayooo ngelamun jorki yaa”. Nina membuyarkan lamunan Dita siang itu.
“Huss asal aja kalo ngomong”
“Eh, Dit gue perhatiin loe kok bengong aja seh hari ini, mana lirik-lirik tuh cowok lima lagi, bosen ya menundukan pandangan?.
Bukannya menjawab, Dita malah ngloyor meninggalkan ruang kuliah.
“Woi tunggu, eh Dit kamu ikutan ta’lim khan siang ini”. Kata Nina sambil mengejar sohibnya.

***

Emang ga salah kata Nina, hari ini tuh beda banget buat Dita. Sejak kemunculan pesan-pesan misterius itu, pikirannya tersita untuk mencari tau siapa gerangan pengirim SMS misterius itu. Bahkan sampai ta’lim rutin yang biasanya diikuti dengan konsen pun dijadikannya ajang berbengong ria.
“Ssst Dit kamu sakit yaa?”. Kata Nina setengah berbisik
“Ngga kok, aku ga apa-apa, tapi makasih deh atas perhatiannya”
“Eh Dit, kamu ngerasa ga kalo Dikha merhatiin kamu?”  Nina tampak serius
“Ha..ha..ha ga lucu tau”. Kata Dita sambil mencubit
“Eh bener, sumpe makanya jangan bengong terus donkz”
Diam-diam Dita Geer juga, soalnya siapa sih yang ga mau diperhatiin sama Dikha Putra Khalifaa, aktifis paling dicari sekampus sekaligus salah satu anggota JI (Jomblo Idaman).
“Ahh coba kalo dia yang kirim SMS, tapi... mana mungkin, membaca saja aku tak bisa ...eh salah mana mungkin, dia khan ga kenal sama aku, biar kami satu fakultas tapi... Asstagfirullah yaa Allah jangan biarkan siapapun memalingkan hatiku dari mengingat-Mu yaa Rabb”.
Alhamdulillah syukur dech, akhirnya  Dita tersadar  kembali dari khayalannya.

***

 

Senin, 20:00 WIB

Setelah makan malam Dita mengurung diri dalam kamarnya. Rasanya ga ada yang mau dikerjakannya selain berbaring di atas tempat tidur. Dibiarkannya tugas di atas meja belajar, lagi ngga mood, begitu alasannya. Padahal, yang bener khan lagi nungguin, kali aja SMS itu datang lagi, ehmm.
Digenggamnya HP kesayangan, entah berapa kali pesan-pesan misterius itu dibacanya kembali. Siapa...? Kenapa...? Apa maksud nya...? dan seribu satu pertanyaan lainnya senantiasa berputar diatas kepala Dita, yang membuatnya semakin gelisah.

***

Ahh Dita, andai saja kamu tau, nun jauh di ujung sana, seorang mujahid tengah merasakan kegelisahan yang sama. Masih terngiang ditelinganya tausiyah yang disampaikan ustadznya beberapa waktu lalu.
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, tidak bisa menjangkau sampai kepada hakikat. Manusia hanya bisa menduga dan memperkirakan, namun tak jarang perkiraan manusia keliru. Boleh jadi kamu mengira mengira sesuatu itu baik namun ternyata ia buruk bagimu. Boleh jadi juga kamu mengira sesuatu itu buruk bagimu padahal ia baik bagimu.” Begitu kata pak ustadz sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
“Menikah adalah ibadah, jadi harus dipersiapkan secara matang. Pilihlah isteri yang shalihah yang bisa membawa kebaikan pada agamamu. Untuk itu libatkan Allah dalam perkara ini, mintalah petunjuk padanya, jangan biarkan perasaan menguasaimu. Menurut perkiraanmu bisa jadi ia adalah sosok Ummi Dambaan. Namun Allah-lah yang paling mengetahui yang terbaik untukmu. Istikharahlah!”. Lanjut ustadz
Mujahid kita ini memang belum melakukan shalat istikharah seperti yang disarankan pak ustadz. Bukan karena malas, namun ia khawatir mendapati kenyataan bila petunjuk Allah berbeda dengan  perasaannya. Abis, sudah terlanjur sayang seh. Wit wiuw.
Namun, setelah merenung dan berfikir. Akhirnya…
“Yaa Allah, kalau ia bisa membawa kebaikan untukku dan agamaku maka dekatkanlah ia, bila tidak... jauhkanlah yaa Allah.” Yess akhirnya jagoan kita ini melaksnakan nasihat dari ustadznya.

***

24:00 WIB
Tiit…tiiit... bunyi HP segera membangunkan Dita. Rasa kantuk yang menyelimuti segera sirna, terutama setelah tau nomor pengirim SMS. Dag dig dug jantungnya berdebar tak keruan. Segera dibukanya SMS itu.
“Ass wr wb. Ukhti, ketika seseorang datang dengan niat suci, didepan pintu ia berdiri. Apakah kan kau ijinkan ia disisi, ataukah kau biarkan ia sendiri?. Wass”
Kali ini Dita ga tahan untuk cuek, segera saja dibalasnya SMS tersebut.
“Ass wr wb. Akhi, bila benar membawa niat suci, kenapa harus sembunyi. Bukanlah seorang pemberani pantang untuk bersembunyi jika ia berjalan pada kebenaran?, apalagi harus menyembunyikan jati diri. Wass.”
Tiit...tiiit  Message sent
Tiiit...tiiit tak lama jawaban pun tiba.
“Ass wr wb. Ketika petunjuk memperkuat perasaan, sirnalah keraguan dan tiba saat berterus terang. Berbekal azzam dan tawakal, melalui SMS ini saya bermaksud menyatakan niat suci kepada ukhti.”
“Menikah adalah sunnah, wanita shalihah itu anugerah, khitbah hanyalah langkah, tujuannya keluarga sakinah. Dari temanmu Dikha Putra Khalifa.

Gubrags... Dita semaput ketika mengetahui nama si pengirim pesan.


****


Catet: Khitbah disampaikan kepada wali, jadi bila keukeuh pengen lewat SMS, kirim sama bapaknya. OK!
(Buat temen koe yang mo khitbah, cerpen ini untukmu friend)


SMS

Posted by Unknown 1:30 AM


KUPINANG ENGKAU LEWAT SMS

Tiiit...tiiit, Tiiit...tiiit
Tanda pesan masuk yang keluar dari HP sejenak membuyarkan konsentrasi Dita. Segera ia bangkit dari meja belajarnya dan meraih 5200 kesayangannya.
“Ass wr wb. Are you Jomblo?”.
Gubrags...., Dita terduduk lemas di atas ranjangnya, bukan apa-apa, tapi kalimat pembuka dalam SMS itu lho yang bikin Dita keki. Soalnya (sst.. of the record) Dita tuch jomblo beneran gitu loh.

“Siapaaa lagi yang iseng?” Dita bertanya dalam hati, penasaran dengan kelanjutan SMS ia pun kembali membacanya.
“...Jawab Ya bila ukhti masih sendiri..  A. bila tak masih sendiri, B. bila ada yg khitbah.”
“Masya Allah kayak quis aja dech”. Dita tersenyum kecut.
“Nol lapan limaenam xxx xxx xx” Segera saja dibukanya buku telpon yang selalu nyempil di dompetnya. Dibukanya satu demi satu lembaran halamannya. Tak lama keningnya pun berkerut karena tak satupun nomor yang tertulis di buku teleponnya cocok dengan identitas si pengirim SMS.

“Ah dasar iseng”. Dita segera men-delete pesan tersebut. Tak lama ia kembali asyik di meja belajarnya, melajutkan tugas akhirnya yang hampir deadline itu.
Tiiit...tiiit. Kembali HP-nya berbunyi.
“Ah dia lagi”. Dita bergumam setelah melihat SMS itu datang dari nomor yang sama.
“Ass wr wb. Ukh, saya serius. Tlg jwb SMS sya, pntg. Wass”
Dita Cuma bengong baca isi SMS itu. Pikirannya segera melayang, membayangkan siapa kira-kira yang menulis pesan tersebut.
Belum habis rasa penasarannya, HP-nya kembali bunyi. Nggak tanggung-tanggung, kali ini tiga SMS masuk berturut-turut.
“Ass wr wb. Bila benar cinta itu anugerah, mencintai wanita shalihah adalah anugerah terindah. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti... ketika perasaan itu datang. Ketika shaum tak mampu lagi menghadang. Jaga pandang kini tak berarti. Karena bayang terlanjur lekat di hati. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti… dulu kulitmu bagai tersapu awan kelabu…” (uppss kalo yang terakhir sich kayak iklan pemutih kulit. He he he)

Senin 09:00 WIB
Tidak seperti biasanya, pagi itu Dita datang ke Sekolah dengan kewaspadaan penuh. cari teroris kalee?, Ternyata bukan, itu dilakukannya dalam rangka mencari tau siapa sih yang belakangan ini sering iseng kirim-kirim SMS. Cieee... ceritanya penasaran neh, pengen tau siapa sih the secret admirer.
Sebenarnya, ga banyak yang bisa dijadikan suspect dalam kasus ini, soalnya, sebagai aktifis dakwah Sekolah, doi tuch Jaim banget. Saban hari di Sekolah lebih banyak dihabiskannya di ruang kelas, kalo pun keluar ya paling ke mesjid pas waktunya shalat, atau ke perpus bila mo pinjem buku. So ga banyak ikhwan yang dikenalnya, paling banter cuma temen-temen sekelasnya yang ada lima itu, selain mereka, kayaknya ga ada dech yang kenal sama dia apalagi sampe naksir segala.
Begitulah yang ada dalam pikiran Dita sekarang ini. He..he..he belum tau dia, kalo cinta tuch misterius banget kayak jelangkung. Datang ga dijemput, pergi ga dianterin. Maksudnya, untuk jatuh cinta itu terkadang ga mesti diawali kenalan dulu. Maklum…pengalaman.
“Indra... ah ga mungkin playboy itu. Lagian nomor HP-nya beda kok. Didi juga ga mungkin, soalnya kesukaan dia kan ABG yang fungky. Bimo juga mustahil, kutu buku kayak gitu mana doyan jail sama orang. Wawan dan Jay, mereka kan gak pegang HP. Jadi siapa donk.. ah pusing”.
“Duarr… hayooo ngelamun jorki yaa”. Nina membuyarkan lamunan Dita siang itu.
“Huss asal aja kalo ngomong”
“Eh, Dit gue perhatiin loe kok bengong aja seh hari ini, mana lirik-lirik tuh cowok lima lagi, bosen ya menundukan pandangan?.
Bukannya menjawab, Dita malah ngloyor meninggalkan ruang kelas.
“Woi tunggu, eh Dit kamu ikutan LDS kan siang ini”. Kata Nina sambil mengejar sohibnya.

***

Emang ga salah kata Nina, hari ini tuh beda banget buat Dita. Sejak kemunculan pesan-pesan misterius itu, pikirannya tersita untuk mencari tau siapa gerangan pengirim SMS misterius itu. Bahkan sampai LDS rutin yang biasanya diikuti dengan konsen pun dijadikannya ajang berbengong ria.
“Ssst Dit kamu sakit yaa?”. Kata Nina setengah berbisik
“Ngga kok, aku gak apa-apa, tapi makasih deh atas perhatiannya”
“Eh Dit, kamu ngerasa gak kalo Dikha merhatiin kamu?”  Nina tampak serius
“Ha..ha..ha ga lucu tau”. Kata Dita sambil mencubit
“Eh bener, sumpe makanya jangan bengong terus donk”
Diam-diam Dita Geer juga, soalnya siapa sih yang gak mau diperhatiin sama Dikha Putra Khalifaa, aktifis paling dicari sesekolah sekaligus salah satu anggota JI (Jomblo Idaman).
“Ahh coba kalo dia yang kirim SMS, tapi... mana mungkin, membaca saja aku tak bisa ...eh salah mana mungkin, dia kan ga kenal sama aku, biar kami satu Sekolah tapi... Asstagfirullah yaa Allah jangan biarkan siapapun memalingkan hatiku dari mengingat-Mu yaa Rabb”.
Alhamdulillah syukur dech, akhirnya  Dita tersadar  kembali dari khayalannya.

***

 

Senin, 20:00 WIB

Setelah makan malam Dita mengurung diri dalam kamarnya. Rasanya gak ada yang mau dikerjakannya selain berbaring di atas tempat tidur. Dibiarkannya tugas di atas meja belajar, lagi nggak mood, begitu alasannya. Padahal, yang bener kan lagi nungguin, kali aja SMS itu datang lagi, ehmm.
Digenggamnya HP kesayangan, entah berapa kali pesan-pesan misterius itu dibacanya kembali. Siapa...? Kenapa...? Apa maksud nya...? dan seribu satu pertanyaan lainnya senantiasa berputar diatas kepala Dita, yang membuatnya semakin gelisah.

***

Ahh Dita, andai saja kamu tau, nun jauh di ujung sana, seorang mujahid tengah merasakan kegelisahan yang sama. Masih terngiang ditelinganya tausiyah yang disampaikan ustadznya beberapa waktu lalu.
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, tidak bisa menjangkau sampai kepada hakikat. Manusia hanya bisa menduga dan memperkirakan, namun tak jarang perkiraan manusia keliru. Boleh jadi kamu mengira mengira sesuatu itu baik namun ternyata ia buruk bagimu. Boleh jadi juga kamu mengira sesuatu itu buruk bagimu padahal ia baik bagimu.” Begitu kata pak ustadz sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
“Menikah adalah ibadah, jadi harus dipersiapkan secara matang. Pilihlah isteri yang shalihah yang bisa membawa kebaikan pada agamamu. Untuk itu libatkan Allah dalam perkara ini, mintalah petunjuk padanya, jangan biarkan perasaan menguasaimu. Menurut perkiraanmu bisa jadi ia adalah sosok Ummi Dambaan. Namun Allah-lah yang paling mengetahui yang terbaik untukmu. Istikharahlah!”. Lanjut ustadz
Mujahid kita ini memang belum melakukan shalat istikharah seperti yang disarankan pak ustadz. Bukan karena malas, namun ia khawatir mendapati kenyataan bila petunjuk Allah berbeda dengan  perasaannya. Abis, sudah terlanjur sayang seh. Wit wiuw.
Namun, setelah merenung dan berfikir. Akhirnya…
“Yaa Allah, kalau ia bisa membawa kebaikan untukku dan agamaku maka dekatkanlah ia, bila tidak... jauhkanlah yaa Allah.” Yess akhirnya jagoan kita ini melaksnakan nasihat dari ustadznya.

***

24:00 WIB
Tiit…tiiit... bunyi HP segera membangunkan Dita. Rasa kantuk yang menyelimuti segera sirna, terutama setelah tau nomor pengirim SMS. Dag dig dug jantungnya berdebar tak karuan. Segera dibukanya SMS itu.
“Ass wr wb. Ukhti, ketika seseorang datang dengan niat suci, didepan pintu ia berdiri. Apakah kan kau ijinkan ia disisi, ataukah kau biarkan ia sendiri?. Wass”
Kali ini Dita ga tahan untuk cuek, segera saja dibalasnya SMS tersebut.
“Ass wr wb. Akhi, bila benar membawa niat suci, kenapa harus sembunyi. Bukanlah seorang pemberani pantang untuk bersembunyi jika ia berjalan pada kebenaran?, apalagi harus menyembunyikan jati diri. Wass.”
Tiit...tiiit  Message sent
Tiiit...tiiit tak lama jawaban pun tiba.
“Ass wr wb. Ketika petunjuk memperkuat perasaan, sirnalah keraguan dan tiba saat berterus terang. Berbekal azzam dan tawakal, melalui SMS ini saya bermaksud menyatakan niat suci kepada ukhti.”
“Menikah adalah sunnah, wanita shalihah itu anugerah, khitbah hanyalah langkah, tujuannya keluarga sakinah. Dari temanmu Dikha Putra Khalifa.

Gubrags... Dita semaput ketika mengetahui nama si pengirim pesan.



NB. BAGI SAUDARAKU YANG MAU MEMINANG NGOMONG LANGSUNG SAJA KE ORTUNYA BUKAN KE ANAKNYA, KALAU MAU SMS YA KIRIM AJA KE BAPAKNYA BUKAN KE ANAKNYA.
****





Sujudku

Posted by Unknown , Friday, July 20, 2012 7:05 PM


ujud ku

Keruh hatiku ketika masalah mulai beradu
Masalah demi masalah terus menghantuiku
Namun seakan sulit melangkahkan kakiku
Untuk mencari kunci masalah yang telah didepan pintu

Dalam sujud aku mengadu
Dalam tangis aku meminta
Ya Rabb.. Ku butuh engkau dalam hati ku
Ku butuh engkau dalam hidup ku

Tangis ku memanggil mu
Ratap ku teringat dosa ku
Rintih ku mengharap ampunan mu
Jerit ku meminta perlindungan mu
           
Ya Rabb…
Mungkin aku sering melupakan mu
Mungkin aku sering mengabaikan nama mu
Namun engkau tak lepas di setiap hembusan nafas ku

Sujud ku memanggil namamu
Sujud ku lantunkan do’a ku
Sujud ku mengukir lembaran hati ku
Dalam sujud ku berteduh dalam keagungan mu

Untukmu

Posted by Unknown 5:27 PM

UNTAIAN DO’A
TATAPAN HAMPA TERLUKIS DALAM WAJAH
TUTURAN NADA TERDENGAR DALAM KATA
SENTUHAN LEMBUT TERASA DALAM JIWA
TAK KUASA KU TERBUAI DALAM RASA


SAAT HATI MULAI TERSENTUH
TETESAN AIR MATA MULAI BERADU
DISETIAP LAMUNAN HATI YANG KELABU

MENCOBA KU TERUS MENJAUH

SAAT HATI MULAI BERTANYA
KU COBA TANGAN KU MENENGADAH
HATI KU BERSUJUD DALAM SEBUAH KATA
DO’A KU TERUS MENGALUN BAGAIKAN NADA – NADA


KU COBA MENCARI SEBUAH HIKMAH
YANG PASTI INGIN AKU SAPA
DALAM UNTAIAN DO’A KU TERUS BERKATA
MEMOHON SEBUAH RASA BAHAGIA DALAM SEBUAH HIKMAH

Sekedar bacaan

Posted by Unknown 4:29 PM


RELAKU
Panas sang surya bagaikan tiada beban menyinari siang, teriknya menyilaukan aspal yang penuh fata morgana , dan berhasil membuwat diriku seakan berada dalam alat pemanas. Sungguh maha Kuasa Pencipta Langit dan Bumi dan juga Mentari, yang mampu menghangatkan dan menyinari seisi Bumi, yang mampu membantu kehidupan di Bumi ini, setapak demi setapak kaki ini melangkah menyusuri aspal, panas teriknya tak menyusutkan niatku menuju Rumah, yups… beginilah mungkin rasanya orang disana yang belum beruntung , menyusuri jalan menjajahkan jualan yang belum tentu laku terjual, panasnya aspal yang membakar kakinya tak mampu menggoyahkan niat untuk mencari nafkah , menghidupi anak isteri yang butuh uluran tangannya. Tut..tut… hand phoneku berbunyi tertera dilayar LCD Kakak memanggil. Ku tekan tombol dan ku awali salam dengan hati gembira,
Assalamu’alaikum kak..” ucapku sambil tak henti melangkahkan kaki ini.
“ Wa’alaikum salam… jangan menyerah ya, meskipun panas sampai membakar kulit, ingatlah disana masih banyak orang yang lebih merasakan panas dibanding adek..”. Ucapan kakak yang seakan tahu apa yang sedang aku keluhkan saat ini. Tersentak aku tersadar atas apa yang aku keluhkan dan langsung ku Ucap Istighfar telah mengeluh pada Allah.
“ kakak… kok tahu ya kalu aku sedang mengeluh….habis panas banget kok..”. Ucapku dengan nada agak manja.
“ ndak usah kayak gitu , kalu mengeluh terus berarti bukan adikku, dimana adikku yang semangatnya terus menggebu, masak adik kalah dengan semangat emak…?? Emak tiap hari mengayu sepedanya , meskipun peluh keringatnya terus tercucur, akibat sengatan sang surya, tapi emak tetap semangat tuh, ndak pernah ngeluh sama kakak..”. Nasihat kakak bagaikan cambuk bagi diriku, ya.. Ibu kakak yang biasa dipanggil emak memang bener – bener seorang perempuan yang aku idolakan, semangatnya begitu besar tanpa lelah menjajahkan ikan pindangnya demi mencari nafkah.
“ iya kakakku,,, makasih ya sudah mengingatkan, udah dulu ya telfonnya, ndak enak dilihat orang , karena adek masih jalan kak, belum nyampe rumah..”.
“ iya adek,, tetap semangat ya…Assalamu’alaikum..”
“ Wa’alaikum salam wr.wb..”
Hem… kakak,, sebenarnya sih kakak bukan kakak kandungku tetapi dia adalah kakak kelasku yang sudah lulus, Hasan Abdullah itu namanya, tapi aku lebih sering memanggilnya kakak, ya…biar lebih enak dan mudah saja. Kakak memang bener – bener jadi inspirasi buwat ku, jadi penasehatku, jadi tempat curhatku dan jadi tempatku bertanya tentang apa yang belum aku tahu, namun , lama – lama hatiku menyimpan rasa yang memang tidak biasa kepada kakak, meski terus ku coba untuk mengendalikan tapi tetap saja hati ini tak bisa berbohong. Kewibawaannya terus melekat dalam instingku yang memberikan motivasi agar diri ini terus semangat untuk maju , dan menjadi seorang Mujahidah sejati.
“ akhirnya nyampe rumah juga, assalamu’alaikum….”. Ucapku sambil membuka pintu, rumah sepi bagaikan tanpa penghuni, entah kemana ummi. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur , tak sadar aku tertidur, hingga sebuah mimpi membangunkakanku. “ Astaghfirullah… aku belum shalat,,” gumamku sambil bergegas masuk kamar mandi. Segarnya air ini ,, berhasil menghidupkan sendi – sendi tubuhku, yang seakan terbakar oleh teriknya matahari ketika jalan tadi.Usai shalat seakan jiwa ini begitu tenang, damai, tanpa sedikitpun rasa hampa yang menghinggapi. Mentari mulai merangkak kearah barat, senja mulai merayap disore hari, jingga terlukis begitu anggun menghiasi langit sore. Hingga sedikit demi sedikit mentari tertutup kelamnya sang malam, hangat sinarnya tergantikan terangnya sinar rembulan. Tutut…tutut… suara hand phone mengagetkanku Ustadza Farah memanggilku, ku tekan tombol dan ku jawab salam dari ustadza pembimbingku.
“ Assalamu’alaikum dik… “ ucap ust.Farah dengan begitu lembut
“Wa’alaikum salam wr.wb…”
“ Anti besok bisa ikut Masyiroh ndak dik, dalam rangka Tarhib Ramadhan…”
“ InsyaALLah bisa ust. ..”
“ ehm… ya sudah besok saya tunggu , jam 06.00 wib. Harus sudah kumpul, dan semoga niat kita selalu dalam jalan dakwah…”.
“ oke Ust. Terimakasih ya…”
“ iya dik, ya sudah ndang belajar gih… Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam wr.wb..”
Alhamdulilah pahala telah didepan mata, hem… begitu nikmat ketika diri ini harus berjuang demi agama Allah. Keringat ini bagaikan air Surga yang mengaliri semangat para Pejuang Allah. Malam semakin larut tak sabar diri ini menunggu detik – detik terindah menjelang Ramadhan, semangat ini terus berkobar seakan pejuang yang akan menuju Medan Perang. Usai shalat subuh ku bergegas menuju tempat berkumpulnya para Mujahid dan Mujahidah, meski jarak yang ku tempuh lumayan jauh dan tiupan angin pagi yang menusuk tubuhku, tak menyurutkan semangat berjuang ini. Mentari senyum menyambut hangatnya pagi, menyinari embun diatas dedaunan membangunkan burung menyanyikan  nada syahdu. Kini dinginnya pagi telah dihangatkan sang mentari, sesampaiku di Mushola tempat berkumpul, ku pandang wajah – wajah Mujahidah yang begitu berseri – seri layaknya Bidadari Surga Illahi. Begitu erat hubungan kami, rasa kasih sayang persaudaraan diantara sesama Muslim memang benar – benar beda dengan yang lain, kami sangat memperhatikan apa yang saudara kami rasakan, tidak lama seorang akhwat datang, dari kejauhan aku mengenal , Mbak Ila akhwat cantik yang sering kakak sebut namanya. “Assalamu’alaikum dik…kok rajin banget datang duluan, tadi berangkat sendirian ta…?”.
Wa’alaikum salam wr.wb,, iya mbak tadi sendirian, habisnya mau hubungi mbak ila ech belum punya nomer hpnya..”.
Akhirnya setelah semua lengkap kami berangkat menuju tempat tujuan, roda mobil yang kami tumpangi terus berputar menempuh jalan yang begitu panjang, namun lelah perjalanan itu, semua terbayarkan dengan rasa takjub dalam hatiku, mataku tertuju pada barisan akhwat yang begitu banyak, sangat anggun, benar – benar menerapkan syari’at Allah. Semangat kami kembali menggebu, menyusuri jalan raya dengan Takbir dan Shalawat yang terus menggema, menghiasi bibir ini, dan mendobrak pintu hati saudara – saudara kami. Kalimat – kalimat indah terus terlantun hingga anak kecilpun tertarik mengucapkannya,,,
Ramadhan Bulan Dakwah
Ramadhan Barokah
Islam Tegakkan
Syari’at Terapkan
Khilafah Dirikan
Allahu Akbar
Kalimat – kalimat itu terus terlantun, dengan semangat yang sangat berkobar seakan mengalahkan rasa lelah yang bersarang. Saatnya kami pulang menuju rumah tempat berteduh, meregangkan otot – otot yang kaku. Mobil terus berjalan ditengah terik matahari , jalan yang tak rata sesekali menghambat perjalan kami , ku lihat para Akhwat tertidur dalam mobil, mungkin akibat lelah setelah setengah hari menyusuri jalan dengan  melantunkan Kalimat – kalimat Indah. Akhirnya kami memutuskan berhenti di Masjid untuk mendirikan Shalat, butiran air Wudhu mengalirkan ion – ion positif dalam tubuh ini, begitu segar bagaikan air surga yang mengalir, mampu melenyapkan rasa lelah,, usai Shalat kami melanjutkan perjalanan Pulang dengan berganti kendaraan, ya … aku pulang bersama mbak ila dan Akhwat yang lain , yang rumahnya searah dengan aku, angkot menjadi pilihan kami. Kernek jail tak jarang kami temui, seperti saat ini, dengan kecantikan Mbak Ila, mampu menggerakkan jemari kernek yang berusaha merayap dipipi Mbak Ila, sorot mata tajam bagaikan elang ketika kernek itu memandang wajah Mbak Ila. Dalam hati aku berfikir, apakah setiap lelaki seperti ini, ketika melihat Akhwat yang cantik, Ya.. Allah semoga engkau memberikan aku jodoh yang Sholeh. Mujahid yang aku harapkan menjadi Imam dalam rumah tanggaku nanti. Sesampai dirumah ku rebahkan tubuhku diatas kursi Shofa,ketika mata hendak tertutup , suara hp membangunkanku, kakak kembali menelfonku menanyakan kegiatanku hari ini.
“ Assalamu’alaikum adik kecil…”.
“ Wa’alaikum salam kak…”
“ Bagaimana tadi ketemu dengan mbak ila ndak…terus ngobrol apa aja dengan mbak ila…?”. Tanya kakak seakan bener – bener pengen tahu tentang mbak ila. Hem.. mbak ila lagi , mbak ila lagi, gerutuku dalam hati.
“ Adek Kecil…. Kok diam aja,,gimana tadi…”.
“ hehe… iya tadi bertemu dengan mbak ila kak, ya ngobrol – ngobrol biasa aja,,”
“ mbak ila tadi bagaimana, pakek jilbab dan krudung syar’I ndak…”.
“ iya kakak…uda ach mbak ila terus dech…”. Gumamku pada kakak yang menginginkan pembahasan yang lain.
“ hehe adek kecil..adek kecil.. gimana tadi ngajinya...”
“ ndak ngaji kok kak, tadi ikut Masyiroh,, Alhamdulilah semakin menumbuhkan semangat- semangat Mujahidah…”.
“ Alhamdulilah… tetap Istiqomah ya…Yaudah ndang istirahat pasti lelah, Assalamu’alaikum..”.
“ InsyaAllah kak, Wa’alaikum Salam Wr.Wb.”.
Kurebahkan tubuhku , sedikit demi sedikit mata mulai terpejam. Putaran kipas angin menambah nikmatnya waktu istirahat. Hingga sayu – sayu terdengar suara lembut membangunkanku, ummi dengan begitu hati – hati.
“ ndang mandi Fi… uda sore, tadi mau ummi bangunkan tapi kelihatannya anti kecapekkan banget ,tidurnya pulas jadi ndak tega ummi bangunin..”.
“ Hehe iya ni mi.. capek banget rasanya, yaudah kalau gitu tak mandi dulu..”.
“Hemm.. ummi bener – bener orang tua yang menjadi dambaan anak – anaknya.. “. Gumamku dalam hati. Hari semakin sore langit dengan suara – suara petir menemani kelamnya awan mendung, yang menandakan sebentar lagi butiran – butiran Kristal terjun diatas Bumi, menyegarkan tanah – tanah gersang, menghijaukan dedaunan, dan menumbuhkan anak – anak pohon yang akan bertunas menghiasi isi Bumi.
 Alunan rintik hujan bagaikan melodi ditengah gelapnya sang malam, menemani jiwa yang tertegun menatap butiran Kristal. Sembari memainkan polpen ditangan , ku rasakan dinginnya hembusan angin malam. Ku tutup diaryku yang sedari tadi menampung curahan hatiku. Bingung, resah, letih, hampa semua bercampur aduk saling mengadu dalam batinku. Sesekali tersirat bayangan seorang kakak yang paling berharga dalam hidupku , sesekali pula tersirat bayangan akhwat yang cantik , yang mungkin akan menjadi bidadari pilihan kakak ku. Jarum jam terus merangkak menuju pkl. 21.00 WIB. Namun perasaan ini tidak karuan entah apa yang aku rasakan, bercampur aduk bagaikan gado – gado tanpa bumbu. Ku coba merangkai sebait kata Motivasi untuk diri ini , agar aku tak terlalu larut bersama rintik hujan dimalam senduh. “ Mbak iLa…”. Nama itu terus bersarang ditelingaku, hati ini terasa cemburu ketika mendengar dan mengingat nama itu, entah apa ?? entah mengapa?? , perasaan ini terus beradu antara sayang dan cemburu. Nama itu selalu ku dengar dari mulut kakakku, entah mengapa kakak selalu menyebut nama itu, mungkin suka atau mungkin hanya sekedar ingin mengenal . namun hati ini tak bisa berbohong, rasa sakit yang mendalam tak mampu aku nafikkan , meski kadang senyum aku bumbukan agar sakit ini hanya aku yang merasakan. Ku coba adil, dan ku coba ihlas menerima apa yang kakak putuskan , meski hati terus memberontak dan ingin mengatakan Kakak Jangan…!!. Namun aku bingung dengan apa yang kini aku lakukan, aku sakit ketika kakak terus menyebut nama Mbak ila, namun aku merasa senang ketika aku membantu Kakak mengenal mbak Ila, mungkin aku bodoh membiarkan kakak yang aku sayangi dimiliki orang lain, namun apa yang harus aku lakukan jika memang mereka berdua berjodoh. Ku ambil Hand phoneku dan ku ketik sebait kalimat untuk mbak ila,
Mbak, jika mbak ila kakak Khitbah, mbak ila mau menerima ndak…”. Kutekan tombol send pada mbak ila, sekejap mendapat balasan yang cukup membuatku tenang.
“ Ach adek ini bisa saja, mbak itu ndak cocok sama kakakmu dek, mbak mungkin punya pilihan lain, mbak sama kakamu itu hanya teman biasa “. Ya jawaban yang memang sangat aku harapkan namun dalamnya laut bisa diukur tapi dalamnya hati siapa juga yang tahu. ku rangkai kembali kalimat demi meyakinkan,
“ Kakakku ganteng lhow mbak, agamis, humoris, cocok dech jadi imam, pokoknya dambaan para Isteri..”. aku sangat berharap jawaban penolakan dari Mbak Ila , namun ya…. Kecemasan hati melanda kembali ketika membaca balasan Mbak ILa.
“ Masak ganteng dek, emang menurut adek , mbak cocok ta sama kakakmu, terus kakakmu itu gimana sih orangnya…”. sebelum membalas sms mbak ila, tak lupa pula ku rangkai sebait kalimat untuk kakakku dengan harapan yang sama , bahwa kakak tidak menginginkan mbak ILa, namun apa, jawaban kakak semakin menjadikan hatiku perih bagaikan teriris, pedih yang mungkin tak ada luka sepedih ini.
kak, Mbak ila tanya – tanya tentang kakak, adek mau tanya, kakak benar – benar mantap ta sama mbak ila, kok sampai sebegitunya Tanya tentang Mbak ila…”.
“ Adekku yang cantik… ndak usah dibahas ya, kakak ndak bisa jawab untuk saat ini, jika Mbak ila Tanya tentang kakak , ya jawab aja tentang apa yang adek ketahui, mungkin itu bisa membantu kakak dan Mbak ila untuk saling mengenal..”. Tetesan air mataku tak terbendung lagi, rintik hujan kini ku temani dengan guyuran derasnya air mata dipipi, senyum ceriaku yang selalu terlukis ketika chatting dengan kakakku, kini telah terbalut senduh. Aku bodoh atau aku munafik, ,, kata itu terus menghantui otakku , tanpa sadar hand phone terlepas dari tanganku dan tertidur dalam duduk kepiluanku, hingga suara alarm membangunkan tidurku. Ku ingat sebuah Hadist yang mengatakan bahwa “ Allah merahmati seorang perempuan yang bangun untuk menegakkan sholat malam dan membangunkan suaminya, namun jika suaminya enggan maka hendaklah  ia memercikkan air ke muka suaminya “, akhirnya ku ketik kalimat itu dan aku send ke kakak dengan harapan semoga kakak bangun dan mendirikan sholat lail, yups entah aku yang mikirnya kejauhan atau entah apa, angan – anganku selama ini ingin menjadi isteri kakak, aku sangat menginginkan suami seperti kakak , kebijaksanaannya, kewibawaannya, nasehat – nasehatnya , itu semua yang menjadikanku terus berfikir ingin memiliki imam yang bisa menuntunku agar selalu istiqomah dijalan Allah. Tut…tut…. Hpku berbunyi tertera dilayar LCD 1message, ternyata kakak yang membalas pesanku,
sungguh luar biasa adekku, syukron ya”.hem… hati ini serasa bagaikan taman yang berbunga, begitu riang bagaikan anak kecil menerima hadiah, begitu senang bagaikan balon melambung tinggi keangkasa. Ku balas pesan singkat dari kakak,
“ kakak sudah shalat kan….”.
“ hehe belum adek, kakak lagi banyak tugas, do’akan ya nanti kakak UAS semoga lancar…”. Sedikit kekecewaan hinggap dihatiku karena kakak belum melaksanakan sholat lail , akhirnya ku coba untuk mengingatkan kakak,
“ kakak , diletakkan dulu tugasnya, sekarang waktunya menghadap sang Rabb, shalat yang paling utama setelah sholat Fardhu adalah shalat lail,,,sholat gih, dan adek do’akan semoga kakak  lancar dan diberi kemudahan…”.
“ siap… adekku sayang..”. hem…. Kata – kata itu bagaikan pelangi yang mewarnai hari yang redup, bagaikan matahari yang menghangatkan hari yang keluh, bagaikan rembulan yang menerangi malam yang kelam. Entah apa yang telah merasuki otakku, takut atas siksa sang Rabb terus menghantuiku namun aku tak bisa memungkiri bahwa perasaanku yang menuntun diri ini. Usai shalat ku haturkan do’a – do’a panjangku berharap ampunan dari sang Rabb atas apa yang diri ini lakukan.
“ Ya ALLah… hamba Jatuh cinta, hamba tersiksa dengan perasaan ini, hamba mohon berikan hamba kekuatan untuk mengendalikan perasaan ini, hamba takut akan siksamu yang begitu pedih, hamba juga takut akan azabmu yang begitu perih..”. ku ambil hand phoneku, ku rangkai kembali kalimat untuk Mbak ila , kuawali dengan salam pembuka.
“ Assalamu’alaikum mbakku yang cantik , calon kakak iparku…”. Ya.. kalimat basa basi itu ku rangkai demi menjalin persaudaraan antara kami berdua.
“ Wa’alaikum salam ade kecil… lagi apa ini..??”. yups… sebutan adek kecil memang selalu mbak ila uatarakan begitu pula dengan kakak , dia selalu memanggilku dengan panggilan adek kecil. Ku ketik sebait kalimat kembali .
“ lagi bantuin kakakku mencari Bidadarinya niech mbak, ech mbk boleh Tanya ndak, kakak pernah sms atau televon Mbak ila ndak…??”. Kalimat itu sengaja aku rangakai dan pertanyaan itu sengaja aku haturkan untuk mendapat sebuah kebenaran , apakah kakakku berbohong atau tidak karena kakak selalu mengatakan bahwa kakak belum pernah sekalipun berkomunikasi dengan mbak ila, namun kekecewaan seakan bagaikan petir disiang bolong, jawaban mbak ila membuwatku begitu kecewa dengan kakak.
“ ehm… jawab ndak ya,,, iya dek mbak sering sms-an kadang juga televon, tapi kakakmu kalau televon pakai nomer pabrik, karena kalau pakai nomernya, mbak ndak pernah angkat..”. kakak pembohong,,, kata itu terus membayangi fikiranku, entah mengapa aku begitu kecewa entah karena kakak berbohong, atau karena rasa cemburu karena sering komunikasinya kakak dengan mbak ila. Aku ingin marah tapi pada siapa, aku ingin mengadu tapi tak ada satupun yang mengerti perasaanku, hanya Allah yang selalu ada, ketika aku sedih, senang, dan ketika tak ada satupun orang yang bisa mengulurkan belas kasihan. Sedikit demi sedikit ku coba untuk rela dengan apa yang terjadi, aku sadar, mengapa aku mengidolakan sosok kakak yang memang hanya seorang manusia yang tak sempurna, kadang salah dan juga lupa, aku sadar rasa tidak halal ini seharusnya tak selalu aku pelihara, aku sangat bersyukur ketika aku mulai tersesat , Allah menunjukkan aku dan menuntunku kejalan yang benar. Namun aku juga manusia , yang memiliki Ghorizah ( Naluri ) merasakan cinta dan dicintai, aku tak bisa memungkiri semua itu, karena memang Allah menciptakan manusia dengan diberikan Naluri, cinta itu Fitrah , kata – kata itu selalu aku dengar dari Mushrifahku , namun kita harus bisa mengendalikan, jangan sampai cinta itu yang menuntun kita kepada kemaksiatan, tapi tuntunlah cinta itu kejalan penuh Keridhoan. Yups… kalimat itu terus terpatri dalam ingatanku, dan selalu aku jadikan sebuah nasihat , ketika hati ini merasakan kecewa, ketika hati ini merasakan dusta, dan ketika aku mulai terseret dalam lembah tipu daya. Namun aku juga akhwat biasa, bukan Wonder Woman yang begitu kebal, aku bisa merasakan sakit, aku sangat benci dibohongi, karena begitu sakit ketika kepercayaan ini dihianati. Matahari pagi ini tak kusambut dengan lukisan wajah indah seperti biasa, namun senyum semangat sang mentari ku sambut dengan wajah senduh dan pilu. Tututut..tututut…. hpku berbunyi , sebenarnya malas menerima panggilan kakak, namun aku harus bisa mengendalikan perasaanku, dengan begitu malas ketekan tombol dan ku ucapkan salam.
“ Assalamu’alaikum..”. salamku dengan nada agak jutek.
“ Wa’alaikum salam wr.wb, kayaknya adekku kok lagi manyun ya… jelek lhow..”. Goda kakak membalas salamku.
“ Ndak papa, Cuma lagi males..”. Jawabku dengan sangat malas, dan nada bicara yang sedikit membentak.
“ Adek… kok suaranya kayak kodok ya kalau lagi marah, memangnya kenapa toch, kakak punya salah atau gimana..”. Ucap kakak dengan nada bicara yang begitu halus, dan seakan memang benar – benar ingin tahu , mengapa aku bersikap tidak seperti biasa.
“ Kakak Pembohong, aku kecewa sama kakak…”. Bentakku dan langsung menutup telefon tanpa salam. Mungkin sikap dan responku salah , namun aku benar – benar tidak bisa mengontrol, kalimat Istighfar terus terucap disudut bibirku. Kakak terus memanggil , tapi selalu aku tolak , aku tidak mau jika responku menyakiti kakak, lebih baik tidak aku angkat telfonnya, daripada aku angkat tapi aku sakit hati dan memarahinya. Setelah telefon beberapa kali tidak aku angkat, kakak mengirimkan sms dengan sebait kata yang mampu membuwat aku sadar dan menyesal.
“ Adekku, jika kakak punya salah , tolong diingatkan, bukan begini respon yang sebenarnya, kakak tahu adek kecewa , tapi setidaknya adek bisa mengingatkan kakak, ingat dek kakak juga manusia yang tidak luput dari salah, meski kakak mencoba untuk selalu benar..”. Kata – kata itu mampu meneteskan air mataku, meski itu hanya kata – kata tapi aku bisa merasakan , kakak begitu hati – hati dan halus dalam mengungkapkannya. Aku seharusnya bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, aku harus bisa mengendalikan emosiku. Sekejap aku teringat sebuah Hadist yang berbunyi “ Orang yang paling kuat adalah yang bisa menahan emosi dan marahnya“. Akhirnya aku putuskan mengetik sebait kalimat untuk kakak dengan begitu hati –hati.
“ kakak.. adek minta maaf , adek sadar adek salah, seharusnya bukan seperti itu respon adek, seharusnya adek bisa menerima kelebihan dan kekurangan kakak, adek minta maaf kak tidak bisa mengendalikan emosi..”. Setelah ku ketik kalimat itu dan ku kirim ke kakak, kakak langsung menelfonku, dengan hati – hati ku ucapkan salam .
“ Assalamu’alaikum…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, wach sekarang suaranya sudah ndak kayak kodok lagi,,”. Goda kakak yang mampu buwat aku tersenyum.
“ Hehe, bisa aja..”.
“ Uda ndak manyun lagi kan,,, adek,, kakak minta maaf ya kalau buwat adek sakit hati dan kecewa, masak mau Ramadhan kok kakak dimusuhin sih..”.
“ iya kak, sama – sama , aku juga minta maaf ..”.
“ Iya, yaudah ndang berangkat ke Sekolah gih.. nanti telat..”.
“ Iya kak, Assalamu’alaikum Wr.Wb.”
Hem… memang kalau berhadapan dengan kakak, aku tidak bisa ngambek lama – lama , kakak selalu bisa buwat aku sadar, mampu membuwat manyunku menjadi tawa, membuwat marahku menjadi canda. Kini warna pelangi kembali terlukis dalam senyumku, meski kadang kalau teringat masih sedikit sakit, tapi aku putuskan untuk membantu kakak dalam proses Ta’aruf dengan Mbak ILa, mungkin aku bodoh telah menyakiti hati sendiri, namun hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang telah kakak lakukan padaku. Hari demi hari proses Ta’aruf  kakak semakin lancar, dengan bantuanku menanyakan semua tentang mMbak ila kepada orang terdekatnya, begitu juga Mbak ila yang secara langsung Tanya padaku, tentang bagaimana itu kakak. Ketika Ta’aruf hampir selesai , aku harus menerima kenyataan bahwa kakak akan segera menikah. Mungkin ini tidak pernah aku bayangkan, bahwa kakak akan menikah lebih dulu dan bukan dengan aku. Tapi , toh Allah sudah menakdirkan seperti ini. Mungkin aku akan sangat senang melihat sepasang pengantin yang berbahagia. Suara hand phone membangunkan lamunanku. Yups.. siapa lagi kalau bukan kakak yang menelfon.
“ Assalamu’alaikum dek…”.
“ Wa’alaikum salam Wr.Wb, duch senangnya yang mau menikah…”. Candaku dengan nada menggoda, meski tak bisa dipungkiri bahwa hati ini tak seceria ucapanku.
“ Ach adek bisa saja.. adek datang ya nanti dipernikahan kakak,,, adek mau jadi apanya nanti waktu Walimah..”.
“ ehm,,,, jadi trima tamunya aja dech kak…”
“ ndak pengen jadi permaisurinya toch… kok Cuma jadi trima tamu…”. Ucap kakak yang seakan tahu apa yang aku inginkan, aku memang ingin sekali menjadi pengantinya bukan menjadi trima tamu atau bahkan tamu Special.
“ ndak ach kak, Mbak ila aja yang jadi Permaisurinya, ntar adek jadi tamu Special, memang kakak ndak mengkhitbah dulu atau langsung nikah…”.
“ ndak dek, kakak sudah merasa cocok, jadi buwat apa lagi diperlama..”.
“ Wach – wach uda ndak sabar ya hehe… kapan kak minggu ini, atau minggu depan..”.
“ aduch.. kasihan adekku , pernikahan kakak itu besok dek, kakak aja sudah dirumah kok,,”.
“ ha..!!!!! besok..????, kok ndak bilang – bilang sih kak, ach curang..”. Ucapku dengan nada kaget dan agak manja, aku tidak menyangka pernikahan kakak akan secepat ini. Aku harus bagaimana besok, siapkah aku melihat kakakku menikah.
“ hehe.. Surprise buwat adek, pokoknya besok harus datang, kalau ndak datang kakak ndak mau kenal lagi sama adek. Yauda dek ya telfonnya, Assalamu’alaikum..”.
“ iya kak, Wa’alaikum salam..”. Hem,,, kakak menikah besok, perasaanku campur aduk, cemburu, sakit, perih, tidak rela, senang, semua jadi satu, aku takut tidak kuwat melihat kakakku menikah, aku takut meneteskan air mata didepan mereka berdua. Pagi telah beganti siang, sore telah berganti senja, dan mentaripun terus merayap hingga tertutup malam. Dan mungkin sebentar lagi malam akan tergantikan senyum mentari pagi. Dan saat itulah aku berhadapan dengan sebuah kenyataan, bukan lagi sebuah lamunan ataupun hanya sekedar angan - angan. Perjalanku menuju tempat Walimah kakak, ku temani dengan hati yang bergetar , dag dig dug bagaikan bom yang siap meledak. Akhirnya sampai ditempat walimah kakak, terlihat begitu banyak akhwat dan ikhwan yang memenuhi tempat itu, dan begitu teratur dengan terpisahnya tempat antara ikhwan dan akhwat. Kakak tidak akan pernah menyampakkan atau bahkan melupakan hukum Syar’i. Mbak ila dengan senyum manisnya menyambutku dan mempersilahkanku, ku peluk Mbak ila dan tanpa sadar air mataku kembali mengalir, entah perasaan senang atau apa yang kini aku rasakan.
“ adek kecil… kok nangis, wach pengen nikah juga ya,,,”. Goda Mbak ila sembari mengusap air mata di pipiku.
“ Seneng aja mbak, lihat Mbak ila dan kakak bahagia..”.
“ ehm,,, cepetan nyusul ya… ech dek ayo kesana , Ijab Qobul akan segera dimulai..”.
“ iya Mbak, Mbak duluan yang kesana masak pengantinnya disini, aku mau kebelakang dulu ngambil kamera ..”. Jawabku yang sebenarnya kamera sudah di dalam tas, namun aku sengaja ingin melihat proses Ijab Qobul dari jauh, agar aku bisa menerima kenyataan ini. Proses Ijab Qobul pun dimulai aku hanya melihat dari jauh, air mataku terus mengguyur bagaikan hujan tak henti – henti, sakit,, memang sakit hati ini menerima kenyataan bahwa kakak tak akan ada lagi untukku, perih bahkan pedih, bagaikan hati ini tersayat pecahan kaca yang tajam. Aku tidak kuwat aku ingin teriak dan mengatakan kakak berhenti..!!! namun semua itu bukan sikap yang seharusnya aku lakukan. Satu dua akhwat memandangku, mungkin mereka heran mengapa aku menangis hingga seperti ini, akhirnya ada seseorang yang memelukku dari belakang dan mencoba menenangkan aku serta menghapus air mataku, Ustadza Farah dengan begitu lembut memelukku serta mengucapkan kata-kata bijak , yang memang sedang aku butuhkan saat ini.
“ dek… kok nangis, anti kenapa, ndak rela lihat Mbak ila bahagia..?”.Ucap Ustadza Farah sembari mengelus kepalaku yang terbalut kerudung besar.
“ endak ust. Aku bahagia sekali melihat mereka berdua, aku bisa ndak ya mendapatkan calon suwami seperti suami Mbak ila..??”.
“ InsyaALLah dek, ingatlah janji Allah, akhwat yang baik diperuntukkan Ikhwan yang baik pula, dan Ikhwan Yang baik diperuntukkan Akhwat yang baik pula. Jadi anti ndak usah khawatir Allah pasti memberikan jodoh terbaik buwat anti..”. Ucapan Ustadza Farah memang benar – benar menenangkanku, dan membuwat hatiku ihlas menerima semua ini. Mungkin disana Allah memberikan jodoh yang terbaik dan bahkan lebih baik lagi buwat aku. Kakak telah menjadi suami Mbak ila, yups… usahaku membantu Ta’aruf mereka tidak sia- sia, dan semoga aku akan menyusul mereka berdua.

-------------------000-----------------