Fiksi

Ijinkan aku Berjilbab
Setapak demi setapak langkahku menyusuri jalan, panas memang sih panas namun peluh keringat ini tak menggoyahkan niatku untuk mencari Ilmu. Diri ini seakan haus akan Ilmu ya memang begitulah seharusnya, aku tak ingin waktuku terbuang dengan hal yang tak ada gunanya seperti shopping atau  hanya sekedar jalan-jalan dipinggir trotoar sambil bergelayut dipundak sang pacar bak suami istri yang lagi kasmaran. Mungkin mereka lupa atau mungkin mereka tak tahu apa tujuan mereka diciptakan Allah di Dunia ini, tujuan Allah menciptakan Manusia adalah untuk beribadah kepadaNya, seperti Firman Allah yang berbunyi “ Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah KepadaKu “. Jadi aku tidak ingin jika waktuku hanya terbuang dengan hal yang tak pasti karena segala yang kita lakukan di dunia akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah.
“ Assalamu’alaikum …”. Ucapku menyapa mbak Arum yang sudah menungguku di tempat perhalaqohan ( pertemuan untuk membahas sesuatu ).
“ Wa’alaikum salam dek, baru pulang Sekolah ya..?”.
“ Iya mbak maaf ya telat ..”.
“ Iya dek ndak papa yaudah kita mulai saja pembahasan kita hari ini tentang jilbab “.
“  Dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 Allah Berfirman Hai Nabi katakanlah pada Istri-istrimu , anak-anak Perempuanmu dan  Istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan Jilbabnya keseluruh tubuh mereka “.  Jelas mbak Arum sambil mengutip Al-quran.
“ Mbak Jilbab itu apakah sama dengan Kerudung ?”.
“ Ya endak dek Jilbab itu dari kata Jalabib dalam kamus bahasa arab yang artinya Baju yang longgar seperti Terowongan, jadi bukan Potongan dek “.
“ Berarti seperti Jubah ya mbak…”.
“ Iya dek dan kita diwajibkan oleh Allah untuk  memakai itu , meskipun sulit namun kita tidak boleh mengingkari salah satu Firman Allah karena jika kita mengingkari Firman Allah maka kita Kufur dihadapan Allah “.
Akhirnya setelah perhalaqohan selesai aku mendapatkan pengetahuan baru, yups Jilbab yang semula aku kira kerudung ternyata jubah dan bahkan wajib memakainya, aku berfikir dan berniat untuk melaksanakan kewajiban itu. Hem… hati ini begitu damai rasanya bak baterai yang selesai di charge , kalau hp saja butuh dicharge apalagi manusia yang Imannya mudah sekali goyah.
“ Assalamu’alaikum ma…. mama…”. Salamku sambil mengetuk pintu Rumah tapi tak ada satupun orang yang membukakan pintu, akhirnya aku terus menunggu di depan pintu hingga ada yang membukanya. Namun karena lelahnya tubuh ini aku tertidur dikursi teras, letih sekali tubuhku seakan tak sanggup menopangku untuk berdiri, keringat yang tercucur terasa begitu nikmat ketika semua karena Allah. Akhirnya Mama pulang dan membangunkanku yang sedari tadi tertidur diteras dan menyuruhku masuk.
“ Ndik… kamu kok tiduran disini,,,”. Tanya mama heran melihatku.
“ Iya ma tadi Indi pulang mau masuk eh pintunya dikunci jadi Indi tidur aja di sini..”. Ucapku dengan mata yang masih sedikit terpejam.
“ Yaudah masuk sana gih mandi…”
Akhirnya selesai mandi aku masuk kamar dan mencari Jilbab namun ketika kulihat seisi almari tak ada satupun Jilbab yang aku punya, aku memang berkerudung tapi pakaianku semua berbahan kaos meskipun semua panjang, akhirnya aku teringat satu Jilbab pemberian Tanteku waktu Ulang tahun, karena memang hanya tanteku itu yang memakai Jilbab. Ketika aku mencoba memakainya dan berkaca didepan Cermin terlihat mama melintas didepan kamarku dan menoleh hingga akhirnya masuk, namun tanggapan mama begitu berbeda dan tak seperti yang aku bayangkan mama menyuruhku membuang Jilbab itu.
“ Ndik… kamu kok pakek begituan, mama dan papa mengijinkan kamu ber kerudung tapi mama dan papa tidak akan pernah mengijinkan kamu memakai Jubah , ayo copot sana sebelum papamu melihatnya..”.
“ Tapi Ma… Indi mau pakai Jilbab, Indi takut dengan siksaan Allah ma tolong ijinkan Indi memakai Jilbab..”.
“ Sekali tidak tetap tidak ndik ayo copot..”.
“ Tapi ma….”.
“ Sudah copot ndik cepat…”. Bentak mama sambil menarik Jilbabku hingga robek, aku hanya menangis dan tak bisa berbuat aapa-apa mama memang benar-benar benci melihatku memakai Jilbab.
“ Sekali lagi mama melihat kamu memakai Jubah mama bakar semua bajumu..”.
Airmataku menghujan, mama dan papa telah tercekoki ulah manusia-manusia yang tak bertanggung jawab, bukan hanya mama dan papa tapi mungkin orang se Indonesia ini sudah tercekoki dengan anggapan-anggapan yang sebenarnya hanya untuk memecah belakan orang Islam dan menjauhkan Orang Islam dari Ajaran yang benar. Yups…Teroris kata itu yang saat ini menjadi hantu dalam fikiran orang-orang termasuk mama dan papaku sendiri. Orang Amerika memang telah berhasil membuat semua orang beranggapan bahwa Agama Islam adalah agama Teroris, sangat miris memang, mereka menggunakan seribu cara agar Islam terpecah belah dan mereka tertawa dengan keberhasilan seperti saat ini.  Kini guyuran airmataku ditemani dengan rintik hujan yang mengalunkan nada-nada senduh yang semakin menambah kepiluanku. Tangisku semakin menjadi ketika terdengar kilatan petir diatas genting rumahku karena aku teringat sebuah Firman Allah yang berbunyi “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahuinya, dan surat ArRa’d ayat 12, “Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.”  Aku sangat takut akan siksa Allah dan bahkan aku sangat takut mama dan papa terjerumus. Akhirnya aku tertidur ditemani dengan tetesan airmata yang menyelimutiku.
tit..tit..tit… suara alarm membangunkan tidurku, jarum jam menunjukkan pkl.03.00 dini hari dan waktunya untuk menghadap sang Rabb. kuhaturkan do’a-do’a panjangku kepada Allah yang maha Segalanya.
“ Ya Allah… hamba mohon bukakanlah pintu hati mama dan papa dan ampunilah segala dosanya, hamba sangat menyayangi mereka Ya Allah tolong bantu hamba untuk bisa memakai Jilbab dimanapun hamba berada “.
Kini pagi telah menyapaku dengan sejuknya embun yang membasahi daun dan hangatnya sang mentari menyinari hingga sinarnya masuk kecela-cela jendela kamarku. Subhanallah Allah telah menciptakan semua ini dengan begitu teratur mulai dari bergantinya siang dan malam hingga teraturnya lintasan planet-planet di Dunia ini.
“ Ndik sarapan dulu sayang… sebelum berangkat Sekolah “.  Suara mama memanggilku untuk sarapan.
“ Lho.. mata kamu kenapa ndik kamu habis nangis ya …”. Tanya papa yang melihat mataku bengkak gara-gara menangis semalaman.
“ Endak kok pa kemaren kena debu waktu Indi pulang dari Sekolah “.
“ Ya sudah jangan lupa di Obatin ndik jangan sampai parah “.
Usai sarapan aku bergegas berangkat kesekolah ketika diperjalanan rasanya ada yang mengganjal dihatiku entah apa itu, setelah aku teliti dari penampilanku ternyata aku teringat kembali bahwa seorang perempuan tidak boleh memakai baju potongan akhirnya aku berniat merubah seragam Sekolahku menjadi Jilbab dan memberanikan diri untuk meminta Ijin ke Kepsek. Namun setelah aku memberanikan diri ke Kepsek kata-kata kepsek benar-benar membuat aku kecewa dan seakan benar-benar melecehkanku.
“ Assalamu’alaikum Pak…”. Salamku menghadap ke Waka Kesiswaan untuk membicarakan niatku dan tanggapan positif dari Waka membuatku sedikit lega ketika beliau memintaku untuk membuat surat pernyataan memaki Jilbab di Sekolah untuk disampaikan ke Kepsek. Setelah surat itu selesai dan berada di tangan Kepsek akhirnya aku dipanggil untuk menghadap ke Kepsek.
“ Assalamu’alaikum pak…”
“Wa’alaikum salam kamu yang namanya Indi Siskia Mierta…?”.
“ Iya pak saya Indi..”.
“ Apa alasanmu meminta ijin merubah seragam apakah kamu tidak sadar bahwa kamu disini hanya seorang Murid bukan siapa-siapa tapi kamu sudah berani-beraninya membuat aturan sendiri kalau kamu anaknya Presiden atau Jenderal kamu bisa membuat aturan semaumu ini Sekolah Indi punya aturan tersendiri..”.
“ Tapi pak saya hanya meminta ijin untuk merubah menjadi Jilbab saja tapi tetap seragam apakah berpengaruh untuk Sekolah ini..”.
“ Tetangga saya saja yang anaknya Kiyai tidak seperti ini apalagi kamu yang hanya anaknya orang biasa saja..”.
“ Tapi pak apakah hanya seorang Kiyai yang harus mematuhi Perintah Allah..?”.
“ Sudah-sudah yang pasti kamu tidak diijinkan memakai Jubah di Sekolah apapun alasannya”.
Aku keluar ruangan dengan kembali meneteskan air mata aku bingung aku kecewa aku sedih semua aku rasakan seakan tak ada satupun orang yang mendukungku untuk merubah penampilanku menjadi Syar’I, kehidupan saat ini memang benar-benar telah jauh dari Islam semakin mendalami Islam seakan seperti menggenggam Bara api yang jika semakin digenggam semakin panas dan jika dilepas bara api itu akan mati.  Meskipun tidak mendapat ijin dari Kepsek akhirnya aku nekat menyambung Seragamku tetapi tidak ada salah satu gurupun yang tahu kecuali teman-teman sekelasku. Dan kini Indi yang sekarang jauh beda dengan Indi yang dulu,Indi yang sekarang benar-benar beda, dulu yang sering kumpul dengan cowok-cowok kini aku hanya kumpul dengan teman cewek, namun semua teman-temanku menanggapi dengan Negatif mereka menjauhiku menganggap aku fanatik menganggap aku Sok suci dan bahkan menganggapku Teroris.
Suatu hari ketika aku tidak masuk karena mengikuti pelatihan, teman-teman satu kelasku mengadukanku kepada Wali Kelas tentang perubahanku tetapi mereka melebih-lebihkan mereka mengatakan bahwa mereka takut jika aku adalah seorang Teroris, aku hanya bisa menangis dalam hati kenapa ketika Kebenaran aku terapkan mereka semua menganggap aneh. Dan akhirnya aku mendapat panggilan ke BK dan ditanya tentang semua yang teman-teman adukan.
“ Indi.. apakah kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini..?”.
“ Tidak Bu…apakah ada masalah dengan saya..?”.
“ Kamu dianggap teman-teman sekelasmu sebagai Teroris , tolong ndik jangan buat mereka resah dengan sikapmu saat ini “. Ucapan bu Kiki menjadikanku tak habis fikir, ada apa dengan sikapku apa yang membuat mereka resah, apakah aku salah mempertahankan Islam, semua pertanyaan itu bersarang di Otakku.
“ Tapi bu saya Bukan Teroris seperti yang mereka tuduhkan, apa salah saya bu, mereka yang memakai baju minim dianggap biasa dan wajar tetapi kenapa ketika saya berjilbab saya malah dianggap aneh dan meresahkan, apakah saya pernah merusak Sekolah ini dengan bom atau apakah saya pernah menodongkan pistol di kepala mereka atau bahkan apakah saya pernah menyuruh mereka seperti saya?”. Ucapku yang mempertahankan diri dan kembali mengalirkan titik butiran Kristal dipipiku.
“ Tapi ndik seharusnya kamu bisa memahami mereka, tolong besok orang tuamu diminta ke sini “.
“ Iya bu..”.
Aku semakin bingung jika mama dan papa ke Sekolah, karena mama dan papa sendiri juga tidak setuju jika aku berjilbab, aku harus bagaimana, aku harus berbuat apa, aku harus meminta bantuan siapa, apakah aku kuat menghadapi ini semua. Perasaanku bercampur aduk jadi satu seakan aku tak sanggup lagi menghadapi semua ini. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menjelaskan didepan teman-teman bahwa aku bukan teroris.
“ Assalamu’alaikum Wr.wb, maaf teman-teman aku hanya ingin meluruskan tentang semua dugaan kalian tentang aku, aku bukan Teroris, aku memang anggota Rohis tapi aku bukan teroris, apa salahku apakah aku pernah meminta kalian menjadi sepertiku, apakah aku pernah memaksa kalian dengan menodongkan pistol dikepala kalian, atau apakah aku pernah membawa bom di Sekolah. Apakah aku salah jika aku memegang Islam, apakah aku salah jika aku membenarkan apa yang Allah benarkan, apakah aku salah jika aku menginginkan Surga, apakah aku salah jika aku tidak ngerumpi dengan kalian, apakah aku salah jika aku menutup auratku secara keseluruhan, aku hanyalah manusia yang mengharap RidhoNya, aku hanyalah manusia yang bisa sakit dan menangis ketika ditimpa masalah, aku hanyalah manusia yang juga butuh kalian, tolong teman tolong jangan jadikan aku sebagai ancaman karena aku bukan pengancam “. Air mataku terus mengiringi setiap kata yang terucap, suasana begitu hening tak ada satu suarapun yang mereka lontarkan seperti ketika mereka berbicara dibelakangku, aku hanya berharap dengan penjelasanku mereka bisa akrab lagi denganku. Akhirnya jam Sekolah telah usai dan bergegas ku melangkahkan kaki untuk pulang, diperjalanan ada teman laki-laki yang menawariku untuk membonceng tapi aku tolak karena memang tidak boleh boncengan dengan non mahrom tapi apa yang dia lontarkan dia bilang Dasar Sok suci ya memang begitulah karena aku memang ingin benar-benar suci dihadapan Illahi. Sesampaiku didepan gerbang bergegas aku ganti seragam potongan karena takut mama melihatku memakai jilbab.
“ Ndik kok baru pulang..?”. Tanya mama menyapa langkahku.
Iya ma, yaudah Indi mandi dulu ya ma…”.
“ Tunggu ndik, mama mau bicara tadi Wali kelasmu nelfon mama dan meminta mama besok ke Sekolah, kamu buat masalah apa ndik seumur-umur mama tidak pernah di panggil ke Sekolah mengenai masalah yang kamu perbuat dan mama berharap ini bukan karena masalah yang kamu perbuat”.
“ Iya ma Indi juga tidak tahu tentang panggilan ini..”.
“ Ya sudah kamu mandi dan makan sana “.
Usai mandi makan dan Sholat aku menyempatkan untuk menonton Televisi dan aku sangat kaget ketika melihat sebuah berita dari salah satu Setasiun TV yang memberitakan bahwa Teroris berasal dari anggota Rohis, seakan-akan masalah ini semakin memojokkanku, aku yang juga aktif di kegiatan Kerohanian Islam (Rohis) seakan tuduhan itu semakin mengarah padaku apalagi jika mama tahu berita ini mungkin mama langsung menyuruhku berhenti dari Rohis.
Kini malam mulai menyelimuti hadirku, sinar rembulan berhasil membuat malam yang hitam kelam menjadi terang dan indah dengan bertabur sang Bintang. Langit begitu Indah dalam hati aku berkata aku ingin seperti Bintang dan Bulan yang begitu Indah ditengah gelapnya sang malam dan begitu terang yang berhasil menyingkirkan sang kelam. Memang benar apa yang dikatakan mbak Arum bahwa ketika kita memegang Islam kita itu bagaikan Air yang begitu jernih terkena noda setitik saja akan terlihat, itulah Indahnya jika menjadi Orang yang beriman kata-kata itu akan selalu terpatri dalam memoriku. Malam mulai tergantikan Indahnya pagi dengan kicauan burung yang begitu syahdu menyanyikan sebait lagu.
Mama menemaniku berangkat Kesekolah dan ketika mama medengar penjelasan dari Guru BK mama langsung memanggilku dan langsung menamparku sakit sekali sangat sekali ketika seorang Ibu yang begitu aku sayangi menamparku karena aku memegang Islam, sakit di tampar seorang yang aku sayangi melebihi sakit yang ada di Dunia ini. Dan ketika aku pulang kulihat seisi Almariku telah ludes Jilbab yang aku kumpulkan dengan sisa dari uang sakuku tanpa sepengetahuan mama dan papa telah dibakar mama, mama dan papa tidak tahu karena ketika aku keluar rumah aku memakai jilbab setelah di luar pintu gerbang jadi tidak ada yang tahu kalau aku diluar berjilbab, mama dan papa benar-benar marah bahkan berbicara kepadaku saja tidak mau, aku sangat tersiksa dengan perlakuan mama dan papaku aku sangat menyayangi mereka.
“ Ma…. Indi ingin Berjilbab ma tolong Ijinkan Indi, sampai kapan Indi harus seperti Ini, Indi bukan Teroris seperti yang mereka tuduhkan, kenapa mama dan papa lebih percaya mereka daripada sama Indi “. tangisku merintih dan merengek mengharapkan Ijin dari mama dan Papa namun tetap saja semua sia-sia mama dan papa tidak mengijinkanku, aku harus bagaimana aku harus apa, tapi aku tetap pada pendirianku Allah Tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hambanya, mungkin ini adalah ujian yang memang terbaik buatku, Islam agama yang sangat sempurna dan aku percaya bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untukku. Apa yang kita kerjakan standarisasinya adalah baik dan buruk menurut Allah bukan menurut manusia, karena semua yang baik menurut Allah itulah yang terbaik bagi manusia.
=====( ANFI )====