SMS
Posted by Unknown , Tuesday, November 6, 2012 1:30 AM
KUPINANG ENGKAU
LEWAT SMS
Tiiit...tiiit,
Tiiit...tiiit
Tanda pesan masuk
yang keluar dari HP sejenak membuyarkan konsentrasi Dita. Segera ia bangkit
dari meja belajarnya dan meraih 5200 kesayangannya.
“Ass wr wb. Are
you Jomblo?”.
Gubrags...., Dita
terduduk lemas di atas ranjangnya, bukan apa-apa, tapi kalimat pembuka dalam
SMS itu lho yang bikin Dita keki. Soalnya (sst.. of the record) Dita
tuch jomblo beneran gitu loh.
“Siapaaa lagi yang iseng?” Dita
bertanya dalam hati, penasaran dengan kelanjutan SMS ia pun kembali membacanya.
“...Jawab Ya bila ukhti masih sendiri.. A. bila tak masih
sendiri, B. bila ada yg khitbah.”
“Masya Allah kayak quis aja dech”. Dita tersenyum kecut.
“Nol lapan limaenam xxx xxx xx” Segera saja dibukanya buku telpon yang selalu nyempil
di dompetnya. Dibukanya satu demi satu lembaran halamannya. Tak lama keningnya
pun berkerut karena tak satupun nomor yang tertulis di buku teleponnya cocok
dengan identitas si pengirim SMS.
“Ah dasar iseng”. Dita segera men-delete pesan tersebut.
Tak lama ia kembali asyik di meja belajarnya, melajutkan tugas akhirnya yang
hampir deadline itu.
Tiiit...tiiit. Kembali HP-nya berbunyi.
“Ah dia lagi”. Dita bergumam setelah melihat SMS
itu datang dari nomor yang sama.
“Ass wr wb. Ukh, saya serius. Tlg jwb SMS sya, pntg. Wass”
Dita Cuma bengong baca isi SMS itu. Pikirannya segera
melayang, membayangkan siapa kira-kira yang menulis pesan tersebut.
Belum habis rasa penasarannya, HP-nya kembali bunyi. Nggak tanggung-tanggung, kali ini tiga SMS masuk berturut-turut.
“Ass wr wb. Bila benar cinta itu anugerah, mencintai wanita shalihah adalah
anugerah terindah. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti... ketika perasaan itu datang. Ketika shaum tak mampu
lagi menghadang. Jaga pandang kini tak berarti. Karena bayang terlanjur lekat
di hati. Wass”
“Ass wr wb. Ukhti… dulu
kulitmu bagai tersapu awan kelabu…” (uppss kalo yang terakhir sich kayak iklan pemutih kulit. He he he)
Senin 09:00 WIB
Tidak seperti biasanya, pagi itu Dita datang ke Sekolah dengan kewaspadaan penuh. cari teroris kalee?, Ternyata bukan, itu dilakukannya dalam rangka mencari
tau siapa sih yang belakangan ini sering iseng kirim-kirim SMS. Cieee...
ceritanya penasaran neh, pengen tau siapa sih the secret admirer.
Sebenarnya, ga banyak yang bisa dijadikan suspect dalam
kasus ini, soalnya, sebagai aktifis dakwah Sekolah, doi tuch Jaim banget. Saban
hari di Sekolah lebih banyak dihabiskannya di ruang kelas, kalo pun keluar ya
paling ke mesjid pas waktunya shalat, atau ke perpus bila mo pinjem buku. So ga
banyak ikhwan yang dikenalnya, paling banter cuma temen-temen sekelasnya yang
ada lima itu, selain mereka, kayaknya ga ada dech yang kenal sama dia apalagi
sampe naksir segala.
Begitulah yang ada dalam pikiran Dita sekarang ini. He..he..he belum tau
dia, kalo cinta tuch misterius banget kayak jelangkung. Datang ga
dijemput, pergi ga dianterin. Maksudnya, untuk jatuh cinta itu terkadang ga
mesti diawali kenalan dulu. Maklum…pengalaman.
“Indra... ah ga mungkin playboy itu. Lagian nomor HP-nya beda kok. Didi juga ga mungkin, soalnya kesukaan dia kan ABG yang
fungky. Bimo juga mustahil, kutu buku kayak gitu mana doyan jail sama orang.
Wawan dan Jay, mereka kan gak pegang HP. Jadi siapa donk.. ah pusing”.
“Duarr… hayooo ngelamun jorki yaa”. Nina membuyarkan lamunan Dita siang
itu.
“Huss asal aja kalo ngomong”
“Eh, Dit gue perhatiin loe kok bengong aja seh hari ini, mana lirik-lirik
tuh cowok lima lagi, bosen ya menundukan pandangan?.
Bukannya menjawab, Dita malah ngloyor meninggalkan ruang kelas.
“Woi tunggu, eh Dit kamu ikutan LDS kan siang ini”. Kata Nina sambil mengejar sohibnya.
***
Emang ga salah kata Nina, hari ini tuh beda banget buat Dita. Sejak
kemunculan pesan-pesan misterius itu, pikirannya tersita untuk mencari tau
siapa gerangan pengirim SMS misterius itu. Bahkan sampai LDS rutin yang biasanya diikuti dengan konsen pun
dijadikannya ajang berbengong ria.
“Ssst Dit kamu sakit yaa?”. Kata Nina setengah berbisik
“Ngga kok, aku gak apa-apa, tapi makasih deh atas perhatiannya”
“Eh Dit, kamu ngerasa gak kalo Dikha merhatiin kamu?” Nina tampak serius
“Ha..ha..ha ga lucu tau”. Kata Dita sambil mencubit
“Eh bener, sumpe makanya jangan bengong terus donk”
Diam-diam Dita Geer juga, soalnya siapa sih yang gak mau diperhatiin sama
Dikha Putra Khalifaa, aktifis paling dicari sesekolah sekaligus salah satu
anggota JI (Jomblo Idaman).
“Ahh coba kalo dia yang kirim SMS, tapi... mana mungkin, membaca saja aku
tak bisa ...eh salah mana mungkin, dia kan ga kenal sama aku, biar kami satu Sekolah tapi... Asstagfirullah yaa Allah jangan biarkan siapapun
memalingkan hatiku dari mengingat-Mu yaa Rabb”.
Alhamdulillah syukur dech, akhirnya
Dita tersadar kembali dari
khayalannya.
***
Senin, 20:00 WIB
Setelah makan malam Dita mengurung diri dalam kamarnya. Rasanya gak ada yang mau dikerjakannya selain berbaring di atas
tempat tidur. Dibiarkannya tugas di atas meja belajar, lagi nggak mood, begitu alasannya. Padahal, yang bener kan lagi
nungguin, kali aja SMS itu datang lagi, ehmm.
Digenggamnya HP kesayangan, entah berapa kali pesan-pesan
misterius itu dibacanya kembali. Siapa...? Kenapa...? Apa maksud nya...? dan
seribu satu pertanyaan lainnya senantiasa berputar diatas kepala Dita, yang
membuatnya semakin gelisah.
***
Ahh Dita, andai saja kamu tau, nun jauh di ujung sana, seorang mujahid
tengah merasakan kegelisahan yang sama. Masih terngiang ditelinganya tausiyah
yang disampaikan ustadznya beberapa waktu lalu.
“Manusia adalah makhluk yang terbatas, tidak bisa menjangkau sampai kepada
hakikat. Manusia hanya bisa menduga dan memperkirakan, namun tak jarang
perkiraan manusia keliru. Boleh jadi kamu mengira mengira sesuatu itu baik
namun ternyata ia buruk bagimu. Boleh jadi juga kamu mengira sesuatu itu buruk
bagimu padahal ia baik bagimu.” Begitu kata pak ustadz sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
“Menikah adalah ibadah, jadi harus dipersiapkan secara matang. Pilihlah
isteri yang shalihah yang bisa membawa kebaikan pada agamamu. Untuk itu
libatkan Allah dalam perkara ini, mintalah petunjuk padanya, jangan biarkan
perasaan menguasaimu. Menurut perkiraanmu bisa jadi ia adalah sosok Ummi
Dambaan. Namun Allah-lah yang paling mengetahui yang terbaik untukmu.
Istikharahlah!”. Lanjut ustadz
Mujahid kita ini memang belum melakukan shalat istikharah
seperti yang disarankan pak ustadz. Bukan karena malas, namun ia khawatir
mendapati kenyataan bila petunjuk Allah berbeda dengan perasaannya. Abis, sudah terlanjur sayang
seh. Wit wiuw.
Namun, setelah merenung dan berfikir. Akhirnya…
“Yaa Allah, kalau ia bisa membawa kebaikan untukku dan agamaku maka dekatkanlah
ia, bila tidak... jauhkanlah yaa Allah.” Yess akhirnya jagoan kita ini
melaksnakan nasihat dari ustadznya.
***
24:00 WIB
Tiit…tiiit... bunyi HP segera membangunkan Dita. Rasa kantuk yang menyelimuti
segera sirna, terutama setelah tau nomor pengirim SMS. Dag dig dug jantungnya
berdebar tak karuan. Segera dibukanya SMS itu.
“Ass wr wb. Ukhti, ketika seseorang datang dengan niat suci, didepan pintu
ia berdiri. Apakah kan kau ijinkan ia disisi, ataukah kau biarkan ia sendiri?.
Wass”
Kali ini Dita ga tahan untuk cuek, segera saja dibalasnya SMS tersebut.
“Ass wr wb. Akhi, bila benar membawa niat suci, kenapa harus sembunyi.
Bukanlah seorang pemberani pantang untuk bersembunyi jika ia berjalan pada
kebenaran?, apalagi harus menyembunyikan jati diri. Wass.”
Tiit...tiiit Message
sent
Tiiit...tiiit tak lama jawaban pun tiba.
“Ass wr wb. Ketika petunjuk memperkuat perasaan, sirnalah keraguan dan tiba
saat berterus terang. Berbekal azzam dan tawakal, melalui SMS ini saya
bermaksud menyatakan niat suci kepada ukhti.”
“Menikah adalah sunnah, wanita shalihah itu anugerah,
khitbah hanyalah langkah, tujuannya keluarga sakinah. Dari temanmu Dikha Putra
Khalifa.
Gubrags... Dita semaput ketika mengetahui nama si
pengirim pesan.
NB.
BAGI SAUDARAKU YANG MAU MEMINANG NGOMONG LANGSUNG SAJA KE ORTUNYA BUKAN KE
ANAKNYA, KALAU MAU SMS YA KIRIM AJA KE BAPAKNYA BUKAN KE ANAKNYA.
****






Post a Comment